Home

Piano

Vanessa Anderson namanya, cantik, berkulit putih, mata lebar dan sejuta kelebihan lain.  Sekilas, kehidupan Vanessa memang sempurna. Nyatanya, tidak.

my piano

“mom! Lihat konserku? Kerenkan!”pamerku.  kudengar mom tertawa di seberang ttelepon. Aku anak blasteran korea-Amerika. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju apartement di hongdae. Mobil sedikit oleng, tiba-tiba BLAR!!! Mobilku menabrak membatas jalan.

“Akh.. mom!!!”hanya itu yang sempat kuberitahu pada mom, lalu gelap.

Ini  dimana?  Aku bisa melihat bunga2 vanilli yang cantik, air mancur , kupu-kupu. Mataku lalu menangkap seseorang yang tersenyum. i.. itu.. itu kan Courtney, kakakku yang sudah meninggal.

“Van, kenapa cepat sekali? Sekarang belum waktumu kembalilah..”ujarnya. tiba2 sudah ada mom dan dad.

“honey, sudah sadar?”kata mom. Aku menggangguk lemas. Aku rasa aku melupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidupku, piano.

“hanya sedikit amnesia. Karena kepala nya membentur aspal”jelas dokter. Mom tampak sedih.

Di rumah aku selalu dibayang bayangi piano. Tapi aku lupa. Lupa mana not c,d,e,f,g,a,b dan yang lain. Aku depresi, membenci diriku sendiri. Aku tak dapat bersanding dengan pianist lainnya. Akhirnya aku minggat pergi dari rumah. Dan bertemu seorang laki2 periang bernama, Josh.

 

 

 

BAB 1

“Hei siapa namamu?”tanyanya.

“Vanessa Anderson”jawabku.

“aku, Joshua Spencer “

“kau mengatakan itu setiap detik”

“kau juga murung setiap detik”

“bukan urusanmu!”

“tapi aku peduli..”

“UNTUK APA?!”bentakku. berandal cilik yang menyebalkan. Dia diam, menunduk dan terisak, cengeng. Laki2 macam apa sih dia ini. Cukup tampan sebenarnya, untuk ukuran orang korea.

“Josh, nama koreamu siapa?”tanyaku. dia mendongak lalu tersenyum, manis sekali.

“Choi Soo Hyun”jawabnya.

“kalau aku, Shin Hyo Rim”

Mataku menangkap sesuatu, bajunya kumal, dekil,menjijikan. Dia sadar, lalu menunduk malu.

“aku miskin, tinggalkanlah aku, kau tak cocok bergaul denganku”kata nya.

I don’t care who you are..

‘cause nobody perfect

Including me..

Don’t judge people based their look..

Aku menyanyikan lagu nobody perfect karanganku. Dia tersenyum, begitupun aku. Lalu, kami membeli baju dengan uangku.

“kau suka main piano?”tanyanya. aku tercekat, tak menggubrisnya. Dia kembali mengoceh, juga tak peduli denganku.

“kalau aku suka, apalagi sama Van, penyanyi nobody perfect yang tadi kamu nyanyiin itu. By the way, kamu mirip banget sama van ya! “katanya. Dia mengidolakan aku?

“a.. aku Van”kataku. Dia kaget.

“lalu kenapa berhenti bermain piano?”tanyanya dingin.

“karena itu tinggal kenangan?”jawabku ragu.

“bukankah itu jawaban yang bodoh?”

“lalu aku harus menjawab apa?” aku mulai emosi. Dia menghela nafas.

sorry, I’m too selfish”ujarnya.hening. aku merasa pandanganku kabur, sesuatu yang hangat meluncur dari mataku.

“kau menangis?”tanyanya.

“memang kau peduli?”balasku sengit.

“Tidak”

Aku memandangnya tak percaya. Untuk apa dia bertanya kalau dia tak peduli. Dia balas memandangku dengan tatapan kosong.

“kamu kenapa minggat?”tanyanya.

“Hmm? Karena aku benci piano?”

“Hah, lucu.. aku juga”

“kau minggat?”

“tidak.. tapi aku benci diriku sendiri”

“dan piano?”

“Ng, mungkin”

Lalu hening menyelimuti kami lagi.

“aku juga pianist tapi tak setenar dirimu” kata Josh.

“aku pernah bermain swan lake di sebuah konser. Tapi di bait terakhir, aku lupa dan berlari ke belakang panggung. Ayah marah lalu pergi meninggal kan rumah untuk selamanya. Ibu jatuh sakit karena tak kuat mengurusku dan meninggal. I’m a killer” ceritanya.

“aku mengalami sebuah kecelakaan, lupa apa itu piano. Aku selalu dibayang-bayangi piano . aku despresi dan minggat”ceritaku. Aku malu sekali terhadap josh, bahkan saat aku lupa lagu fur elisé ayah tetap menyayangiku.  Harusnya aku bersyukur bukan minggat.

“cukup, ayo kita susun kembali puzzle memori kehidupan”kata nya. Aku memandangnya tak percaya. Beberapa detik yang lalu dia adalah sosok lelaki yang cengen. Sekarang, dia menjelma menjadi lelaki penuh tekad.

Beberapa hari kemudian..

“Van ini c bukan g”jelas Josh. Aku mengiyakan.

“Van harusnya ini bass bukan mol”

“Van itu bareng jangan ketinggalan”

“Van ini….”

“van itu..”

Aku meneguk segelas air. Capek sekali. Repot.

“Van ayo!!” teriakannya sungguh menggelegar. Dia pasti capai mengajarku.

“Hey! Aku kan hanya minum!”

“itu menghabiskan waktu 4 menit 58 detik”kata josh

“salah, itu menghabiskan 5 menit 2 detik”

“ itu hanya beda 4 detik”

“tetap saja salah, bahkan jika hanya beda 1 detik”

“memang nya aku peduli?”

“aku tak menyuruhmu untuk peduli bukan?”

“terserah” ucap josh. Aku meleletkan lidah dan memberikan dia wink andalanku. Tiba-tiba dia tampak kaget.

“Akhh! K..kau”
“Apa? kenapa?”ujarku panik juga.

“kau kenal Courtney Anderson?!” tanyanya.

“Kakakku, sepertinya”kataku berusaha mengingat.

“Kalau sebatas itu aku juga tau, bodoh!”

“Kamu yang bodoh! Untuk apa kamu bertanya aku kenal atau tidak, bahkan, kamu sudah tau dia kakakku!!”

“Bukan begitu, aku bertanya padamu tentang Courtney sebagai orang lain bukan sebagai kakakmu”

“maksudmu?”

“Huh, jadi sebenarnya apa yang kamu tau tentang Courtney?”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s