Home

“using no way as a way, using no limitations as a limitation.” — Bruce Lee —

Pernahkah — saya rasa sering — kita mendengar, atau bahkan berpikir seseorang yang belum melakukan sesuatu tapi sudah menyerah dulu ? dengan kata kata “ah saya tidak bisa, itu diluar kemampuan saya, saya belum pernah mempelajarinya, itu tidak mungkin” dan banyak lagi. Tentu saja kita sudah tahu hasilnya , alih alih berhasil, mencoba saja sudah tidak berani.

Sering secara tidak sadar kita memberikan limitasi sendiri pada diri kita, kita mengunci diri kita sendiri pada garis batas yang kita buat sendiri, padahal sangat mungkin –bahkan hampir bisa dipastikan– batas yang kita miliki jauh melibihi pikiran kita, jauh melampaui perkiraan kita. Tidak ada batas seperti itu, itu hanya kesimpulan yang secara tidak sadar membelenggu kita. Kita hanya takut dan malas saja untuk sedikit saja berani melampaui batas yang kita buat sendiri dan menghancurkan belenggu di pikiran kita.

I CAN, YOU CAN, WE CAN is million times better than IQ. Spirit “I CAN” seharusnya menjadi spirit kita untuk menembus batas, breaking the limit, seperti langit, sky limit, bukankah langit “tidak memiliki batasan” ? seperti itulah seharusnya kita membatasi diri kita, our limit is “no limit”, our border is “borderless”. Kita adalah ciptaan Tuhan yang maha sempurna, yang meciptakan kita dengan kesempurnaan, kita harus respect for God creation, otak kita adalah mu’jizat paling sempurna yang diberikan Tuhan pada kita. Jika kita percaya pada Tuhan, percaya pada potensi diri kita yang sangat besar, bisa melakukan empowerment dan utilize our network, maka rasanya tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya bisa kita lakukan !

Suatu ketika, ketika rekan rekan Sales meminta akses ke database Sales, saya memberikan account dengan password yang sangat inspiring, passwordnya “BreakingTheFear”, bagaimanapun, Sales target can be achieved hanya jika kita berani menembus “Crowd” dan “Competition”. Banyak sekali kompetitor, banyak sekali tipudaya dan jebakan jebakan yang terjadi di pasar, ketika melakukan distribusi, memberikan insentif yang tepat sebagai stimulus, entertaint partner dan chalanges yang lain. Maka saya memilih password “BreakingTheFear”  sebagai spirit buat mereka !! And it works. Setiap mereka tidak achieve target, merasa penat , letih dan sebagainya, kata kata ini menjadi salah satu kunci dan sumber inspirasi untuk menumbuhkan semangat baru.

Ketika rekan rekan di CRM (Customer Relationship Management) meminta akses database serupa untuk profile pelanggan, saya memberikan password yang juga unik kepada mereka, passwordnya “WouldYouRecommendEsia” Bagaimanapun, ultimate goal dari proses retensi, satisfaction dan loyalty harus berujung kepada sebuah aktifitas di mana customer harus menjadi affiliate marketing kita,menjadi extension dan perpanjangan tangan marketer dan sales force.  Ujung loyalitas dan kepuasan pelanggan seharusnya happy ending, yaitu membuat mereka merekomendasikan Esia kepada relatives dan network serta komunitas yang mereka miliki. Menjadi REFERRER !!. Agent dan all the staff yang responsible di CRM juga harus punya spirit ini, yaitu “Would I –with all confident and convinience — are brave and strong enough to recommend Esia to our customer ? to our family, to our friends ? , ini bukan password yang saya buat secara main main, ada ultimate goal, ada spirit untuk breaking the limit, ada semangat untuk unlock our potential to achieve maximum result !!. Setiap mereka login, saya berharap mereka tidak hanya bekerja seperti robot, based on KPI, based on SLA, but beyond that border, beyond that limit, they have to explore and exploit all their abilities and competencies to make their Customer recommending others people to use Esia !!

Banyak orang melihat KPI sebagai sebuah batas atas yang harus mereka raih, saya pikir kita harus melihatnya dengan cara yang lain. KPI sebenarnya adalah batas terburuk yang harus kita raih. Kita harus bisa melebihinya. Achieving KPI is good, but GOOD is not enough if BETTER is possible and can be achieved. Ordinary dan average people biasanya bekerja hanya untuk mencapai KPI. Sementara outstanding and supertypical people looking beyond that value, more than the limi written on their KPI !

Well, suatu ketika saya diminta HRD Bakrie Telecom untuk melakukan sharing knowledge dan membedah sebuah buku, audiencenya bukan hanya rekan rekan IT, yang harus saya bahas juga bukan dunia saya, yaitu dunia IT, tapi dunia yang lain, dengan audience yang beragam, jabatan beragam, dan fungsi organisasi yang berbeda, sebuah tantangan yang menguji nyali saya, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, tapi saya sangat excited dan menerima tantangan tersebut, I HAVE TO BRAKE my limit, saya memang orang IT, tapi siapa bilang saya tidak bisa berbicara kepada orang yang bukan berlatar belakang IT ? siapa bilang saya tidak berani berbicara sesuatu di luar IT ? , dan jadilah, seminggu saya tidak bisa tidur !!, seminggu lamanya saya menamatkan buku yang berjudul “It’s not the big that eat the small, it’s the fast that eat the slow ” !!, — jangan tertawa– sebelum saya membaca buku itu, saya menamatkan dulus ebuah buku yang berjudul “seni berbicara di depan umum” karya Larry King 🙂 3 hari lamanya, dan tetap saja saya nervous ketika berdiri di depan mereka, tapi saya berhasil melalui nya dengan sangat baik. Saya sangat puas dengan keberanian saya sendiri. I can breake my limit !! I can break my fear !! Alhamdulillah!

Bulan April 2008, saya ditelpon seseorang dari Singapore, saya diminta menjadi Panelis selama 45 menit dan menjadi speaker untuk memberikan presentasi Bakrie Telecom Case Studies selama 1 jam, dalam forum Billing and Revenue Assurance Summit 2008 di Singapore, audience nya ? jangan tanya, tentu saja para bule, i have to speak and present in English !!. Lagi lagi sesuatu yang belum pernah saya lakukan, saya layak untuk menolak tawaran tersebut !!, tapi lagi lagi adrenalin dan semangat tempur saya yang berbicara !! saya harus bisa, ini kesempatan, this is a good opportunity. Dan saya menerimanya 🙂 Dan kaki saya terasa berat melangkah, penuh ketakutan, nervous, tapi lagi lagi saya sangat tertantang untuk mengalahkan diri saya sendiri, saya melakukannya !! I can break this limit, i am unlimited, I CAN !!, dan saya bisa melaluinya juga dengan baik. Alhamdulillah.

Yang terakhir 🙂 apakah anda sudah membaca posting saya tentang Layanan Terbaru Esia Hai-5?, judulnya “Hanya rp 2000 untuk discount 25 % selama setahun” , dan coba baca bagaimana saya meresponse komentar komentar yang ada di sana. Well, cukup susah ternyata menjadi blogger, dalam response response terhadap tulisan saya itu, saya harus bermetamorfosis menjadi seorang Marketer, menjelma menjadi seorang Sales, mengenakan Action Mask sebagai seorang PR (Corporate Communication), dan encapsulate all my IT knowledge dalam bungkus Public Speaking trough Writing yang harus keluar — out of the box — dari jiwa IT saya :). It’s really exciting, saya harus berpikir dan berusaha keras untuk align my IT skill with HR communication, Marketing campaign and Sales offering 🙂 — menurut saya pribadi — dahsyat — 🙂 I can breake my Limit.  Alhamdulillah.

Jadi rekan rekan sekalian, para blogger tercinta, unlock your limit, unleash our potential, breake our limit !! 

If we believe in GOD, confidence with our self, and can utilize our network, we are unlimited !! Fly high, touch the sky !!

I CAN, YOU CAN, WE CAN !! , is million times better than IQ 🙂

“Don’t believe what your eyes are telling you. All they show is limitation. Look with your understanding, find out what you already know, and you’ll see the way to fly.”  — Richard Bach —

Advertisements

61 thoughts on “breaking the limit

  1. “Yes I can” memang harus seperti itu, jangan membatasi kemampuan diri kita sendiri, jangan pernah menyerah sebelum kita mencobanya… usahakan semaksimal mungkin potensi diri kita dan kembangkan… jangan lupa juga doa… 🙂

    [Hilal]
    Sipp, makasih atas tambahan tips nya, plus DOA , that’s absolutely correct

  2. ‘breaking the limit” ? sometimes more scary than you thought hehe.. tapii tetep kita harus berusaha ya, dgn doa tentu saja and buat resolusi tiap tahun, jd kita ada pacuan utk ke dpn!

    [Hilal]
    Scary is the biggest thing we have to remove 🙂 Setiap orang punya ketakutan, pemberani adalah sebutan untuk orang yang bisa mengatasi rasa takutnya 🙂 keep moving, tentu seperti yang Linda bilang, plus DOA 🙂

  3. You’ll see it when you belive it 🙂 gitu orang sono 😀

    [Hilal]
    Yeppie, we will get what we think we can get :), it’s a power of believe

  4. “spirit for breaking the limit, motivation to unlock our potential to achieve maximum result !!. ” great phrase mas…
    baca postingannya rasanya ikut termotivasi..
    thank for visit
    salam kenal dari bumi nuklir

    [Hilal]
    Good to know it motivate you, great !!, bumi nuklir itu di mana ya ? Iran ? Israel ? US ? India ?

  5. blogger itu lebih hebat di banding artis.
    blogger bisa menjelma jadi dokter kalo postingan nya ttg seputar medis.
    kurang lebih begitulah.

    walau begitu,
    kadang limit tak terhindarkan.

    [Hilal]
    Yupe, blogger bisa bermetamorfosis menjadi apa saja, limit memang ada, tapi bisa ditembus, bisa kita pecahkan, pasti !! 🙂

  6. Breaking the limit?
    serasa ikut “Fear Factor”
    yeah, go get the challenge !!

    *jadi ikutan semangat nih*

    Memandang suatu masalah sebagai tantangan yang harus dihadapi dan dipecahkan akan membuat hidup lebih hidup

    [Hilal]
    Chayooo, semangat semangat 🙂 betul, we can turn problem into opportunity. Simak tulisan saya tentang yang satu ini di sini Turning Problem Into Opportunity

  7. huhuhuhu aku sering tuh…belom nyoba udah yakin gak bisa.

    harusnya Yes We Can ya kayak slogan Obama lol

    [Hilal]
    Yes 🙂 You Can 🙂 like OBAMA :), do not under estimate yourself 🙂

  8. Thanks banget, membuka cara pandang saya tentang KPI. Selama ini saya melihat KPI adalah minimal goal yang harus dipenuhi (bukan the worst limit to achieve) dan syukur jika bisa exceed. Dengan skenario yang radikal, KPI = batas terburuk yang harus diraih, tentu akan mengubah paradigma saya tentang KPI itu.

    [Hilal]
    Great 🙂 semangat, semangat

  9. gimana caranya memberikan semangat kepada orang divonis umurnya tidak akan lama lagi….

    [Hilal]
    Jadikan sisa umurnya yang sedikit untuk memberikan kenangan yang indah pada orang orang yang dicintainya, ketika dia meninggalkan mereka, dia harus memberikan kenangan yang baik, bahwa di sisa umurnya, dia masih bisa memberikan yang terbaik yang bisa diberikan … kenangan manis … kenangan manis ……. meskipun besok hari kiamat, dan masih ada bibit yang belum ditanam, kita harus tetap menanamnya, kebaikan tidak mengenal waktu, kenangan yang manis tidak memiliki dimensi ruang dan waktu ……..

  10. ehm..berada di situasi yang dilema.
    antara yakin dan nga yakin. 😛

    [Hilal]
    Kalau terus nggak yakin, ya nggak akan dapat hasil apa apa 🙂 sama seperti orang kebanyakan, tapi kalau kita yakin, pasti ada something else we’ve got

  11. Saya teringat pesan kakak saya : “Dik, jangan kau katakan -Tak Bisa, -Tak Tahu dan Tak Mau. Katakanlah ; Aku bisa, Akau paham, dan aku mau”.

    Kata2 ini ku dapat sekitar 12 tahun lalu dan tetap menjadi ingatan ku.

    [Hilal]
    Wow, thanks for share, that is so inspiring

  12. Saya hanya bisa mengatakan Laa Haw Laa Wa Laa Quwwata Illaa billaahil Aliyyil “Adziim. Tanpa Qudrat dan Iradatnya kita tidak akan mampu berbuat apa-apa walau sekecil apapun.

    Laa Tatakharroka illa bi iznillah( tak bergerak sekecil zarahpun melainkan itu semua dengan ijin Allah)

    Maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati anda…

    Saya hanya tempatnya salah karena kebenaran semata-mata milik Allah.

    Salam damai penuh cinta di dalam Rahmat dan Ridho Allah

    [Hilal]
    Terimakasih Ibu Mujahidah, kalau ibu Mujahidah lihat, ketika saya mengatakan kenapa kita unlimited, syarat pertama adalah : kalau kita percaya Tuhan, percaya kepada Tuhan adalah syarat utama atas keyakinan kita untuk breaking the limit. There is a power in Miracle, implikasi dari pernyataan ini tentu adalah kepasrahan dan keyakinan total akan pertolongan Tuhan. Tidak mungkin kita bisa melangkah tanpa keyakinan akan bantuan Tuhan. Karena keyakinan inilah kita bergerak, ini adalah trigger utama motivasi kita.

  13. Saya menangkap semangat apa yang ingin disampaikan dari postingan di atas. Ada sebuah kesadaran yang tinggi penuh dengan optimisme yang mendasari setiap gerak langkah yang kita lakukan.

    Namun mungkin saya agak berbeda perspektif dalam melakukan pilihan verbal atas setiap tantangan atau masalah yang dihadapi.

    Lagi-lagi ini bukan semata persoalan semantik ataupun gramatikal atas pilihan kata, namun jauh lebih pada pemahaman yang utuh dan mendalam atas pilihan kata yang digunakan untuk mengekspresikan rasa optimisme tersebut.

    Kata ‘CAN’ yang digunakan pada I CAN, You CAN dan We CAN bukanlah pilihan yang tepat untuk menunjukkan optimisme. Dalam pemahaman yang ekstrim, kata CAN justru bisa menghasilkan tindakan yang gegabah tanpa melihat dan sadar akan kemampuan diri. Kata CAN, juga bisa menghasilkan sebuah tindakan yang cenderung memaksakan kehendak supaya CAN itu bisa terealisasi. Disamping itu, kata CAN punya kecenderungan membuat kita lupa diri dan menjadi sombong seolah-olah kita adalah Superman.

    Untuk memperlihatkan optimisme dan fighting spirit yng tinggi ada pilihan kata yang lebih tepat yaitu TRY -COBA-. Yes I TRY.., You TRY.., We TRY…

    Dalam pemaknaannya kata TRY menunjukkan adanya effort untuk mau menghadapi setiap tantangan dan masalah tentu dengan tetap secara sadar mengenali kemampuan diri.., mawas diri.., tidak gegabah hantam kromo…

    Dan yang paling penting di dalam kata TRY, terkandung sebuah kesadaran bahwa sesungguhnya ketika kita CAN dalam melakukan sesuatu, itu hanya mungkin karena atas ijin Sang Khalik semata. Tanpa ijinNYA, yakinlah seberapa keras dan kerapnya anda mengatakan I CAN…, You still CAN’T…

    Manusia pada akhirnya cuma bisa berightiar, berupaya, -TRY the best-, pantang putus asa…, tapi end result tetap adalah kuasa Sang Pencipta… If we can do something, it’s just because HE allow us to do that… Believe me…

    Tabik….

    [Hilal]
    Tabik dan nice share 🙂 jika mas Mahendra kembali melihat posting saya, dan melihat response saya terhadap Mujahidah Wanita, saya ingin menyampaikan yang sama, bahwa saya katakan di situ … jika kita percaya pada TUHAN, .. itu adalah syarat utama, detailnya ada di response saya terhadap Mujahidah Wanita. Tentang masalah penggunaan kata “TRY”, saya justru menghindarinya, manusia tempatnya malas dan alpha (Seperti difirmankan Allah dalam Al Qur’an), manusia cenderung mengambil batas yang memudahkan dirinya, penggunaan kata Try dalam konteks positif tentu menunjukkan seolah olah kita menyerahkan kepada Tuhan, tapi saya melihatnya terbalik, kata Try seringkali menjadi semacam tameng dan pesimisme, saya lebih suka mengganti try dengan “InsyaAllah”, InsyaAllah dengan meaning Try kita gunakan ketika kita memberikan optimisme pada eksternal environtment(Interpersonal), tapi jika kita bicara secara internal pada diri kita (intra personal), maka I CAN akan memberikan semangat lebih. I TRY biasanya berujung pada : let’s assest .. sementara I CAN akan berujung pada let’s do it … tentu I CAN bukanlah I CAN yang menafikan risk assesment, sehingga berujung pada nekad seperti kata Mas Mahendra, I CAN harus diikuti dengan risk management yang baik, apakah RISK yang ada adalah sesuatu yang accepted (bisa kita terima), atau harus kita mitigate (dicarikan alternatif solusinya), atau malah harus kita refuse (tolak), I CAN adalah sebuah AZZAM OPTIMISME, AZZAM harus diikuti TAWAKKAL sebagai bentuk kepasrahan, dan AZZAM harus diwujudkan menjadi IKHTIAR, IKHTIAR yang baik adalah memperhatikan semua aspek, baik itu OPPORTUNITY, THREAT, WEAKNESSES maupun STRENGTH(OTSW), bukan SWOT :), karena kelemahan dan kekurangan itu relatives terhadap STRENGTH dan WEAKNESSES. Intinya saya ingin menyampaikan, I CAN lebih memunculkan optimisme untuk execute, sementara I TRY lebih kepada keinginan untuk doing assesment (jadi semacam trial).

    Tapi tentu, keduanya punya sisi pandang positif dan negatif, tergantung darimana kita mau melihatnya.
    Yang jelas, semua optimisme itu based on GOD permission and help, our competencies and network optimization (teamwork) — (Seperti hadits nabi, berjamaah itu jauh lebih baik dari pada sendirian). Jadi aspek Ilahiah, aspek pribadi dan aspek jamaah (teamwork) sudah saya masukkan dalam konteks I CAN, YOU CAN, dan WE CAN ini ….

    tabik 🙂

  14. Dulu saya memandang mereka tidak seperti ini looooh…Thanks untuk ppostingannya…

    [Hilal]
    Siapa mereka ? dan bagaimana cara memandangnya ? 🙂 jelasin dong Pak De 🙂

  15. kadang untuk mencapai sesuatu yg lebih, kita harus breaking the limit …………
    peace visit from mel

    [Hilal]
    Yeppie … setuju .. PLUR … from Slank and Esia 🙂

  16. Saya ingat dengan seorang kawan….kalau ada seseorang memberikan proyek apa saja dia selalu mengatakan bisa……baru setelah proyek di terima…dia ribut ke sana kemari mencari referensi….tidak selamanya berhasil…tapi semangatnya itu yang bikin kagum…..

    [Hilal]
    🙂 very good 🙂

  17. Tulisan yg sangat bagus pak Hilal…memberikan semangat baru dan keyakinan yg kuat akan kemampuan diri sendiri

    [Hilal]
    hopefully it usefull ya … thanks anyway ..

  18. mas kamu kerja di ESIA ya??

    belum sempet nerusin baca nih…. tap komen dulu

    [Hilal]
    Yupe 🙂 di Esia …. mudah mudahan bisa mampir lagi dan nerusin bacanya …

  19. Breaking the limit 🙂
    Optimis beda dengan breaking the limit lho bro…

    Semangat optimisme adalah sebuah semangat keyakinan bahwa ada potensi yang belum teroptimalisasi dalam diri seseorang. Hanya butuh katalisatir untuk mengoptimalkannya.

    Tapi kalo “limit”…batasan…ya tak kan bisa ditabrak. Contoh, perempuan. Dasarnya memang diciptakan dengan batasan fisik tertentu. Maka, ketika seorang perempuan melakoni pekerjaan atau aktifitas laki-laki yang mengandalkan fisik ya tetep aja nggak akan seoptimal yang dilakukan oleh perempuan.

    Dalam konsep kapasitas personal, saya agak kurang setuju dengan konsep “breaking the law”. Tapi dalam konsep lain…misal hubungan atasan bawahan…hmmm ini cool untuk diterapkan.

    [Hilal]
    Saya rasa sudah banyak contoh juga di mana wanita bisa melebihi laki laki. Ada petinju wanita, dan tidak semua laki laki petinju, ada karateka wanita dan tidak semua laki laki bisa bertarung, ada pelari wanita dan tidak semua laki laki suka berolah raga.

    Limit yang saya fokuskan disini adalah personality concept, banyak orang beranggapan dirinya tidak bisa, padahal sebenarnya bisa jika mau maksimal ….dan saya juga sebutkan, bukan harus kita yang melakukannya, kita harus bisa utilize teamwork .. misal, kalau sendirian kita bisa membuat pesawat 1 mesin, tapi kalau disuruh membuat boeing mana bisa ? harus utilize network. Begitu juga dalam pekerjaan kita. Jadi konsep diri “pesimis” dan “takut” ini yang harus kita buang.

  20. bener bro,
    limit acap membuat kita
    terkungkung dalam belenggu pessimisme
    dan ketumpulan daya kreasi
    padahal kita bisa kalau mau
    yesss……I can do it
    thanks 🙂

    [Hilal]
    Yupe 🙂 betul bro

  21. Banyak istilah yang saya kurang mengerti (CRM, KPI, SLA, dll).

    Saya kembali sadar bahwa selama ini saya juga membatasi diri sendiri. Sekarang saya harus melihat kembali potensi-potensi apa saja yang harus saya optimalkan.

    Terima kasih atas artikel inspiratif Anda 🙂

    Salam

    [Hilal]
    CRM = Customer Relationship Management
    KPI = Key Performance Indicator
    SLA = Service Level Aggreeement
    anyway … ya, mari terus belajar dan menumbuhkan potensi diri kita

  22. haha :), setuju..setuju…
    semua adalah permainan pikiran,
    bisa atau tidak, it’s show in your mind!
    let’s rock your own mind. salam

    [Hilal]
    Fancy word lagi nih 🙂 mind game 🙂 , so nice

  23. i’m breaking the limit 😉
    mengartikan sesuatu yang tidak tau dan sangat awam, pelan2 satu demi satu dibaca dan mencoba diartikan sendiri tulisan ini, akhirnya aku nemu point interest yg dimaksud (versiku sendiri)
    ‘n than i can

    [Hilal]
    Wow 🙂 very nice and great !!

  24. posting yang bermutu dah mencerahkan mas
    semakin banyak orang indonesia yang tercerahkan, akan semakin baik bagi negeri ini ..
    “tunjukkan pada dunia bahwa kita mampu” – iwan fals (bangunlan putra putri pertiwi)

    ohya thx telah mengunjungi blog saya http://blog.cakdadan.com 😀

    [Hilal]
    Hai 🙂 Lagunya Iwan Fals ok juga tuh 🙂 thanks for that, sudah saya link di blogroll saya ya link nya, thanks for coming and comment Mas Dadan

  25. Iya ya gak ada yang mustahil bila dibarengi niat yang sungguh2…Selain mengingatkan agar tidak pesimis terhadap diri sendiri, juga mengingatkan kita agar tidak mematahkan semngat orang2 disekitar kita, misalnya anak2… (sering denger orang mematahkan semangat lainnya seperti : alaah itu susah pasti kamu gak bisa melakukannya, buang2 tenaga aja atau, mimpi itu gak usah tinggi2 pasti gak bakal nyampe sana!…

    [Hilal]
    Ah, nice point bu, respect others, and being respect by others itu salah satu komponen untuk increase self-esteem, kalau kita sudah percaya pada diri sendiri, maka kita bisa optimis 🙂 nice comment and share bu Rita, thanks alot

  26. Saya setuju bahwa ” I can, we can” dapat menjadi spirit untuk melakukan sesuatu dengan maksimal. Itu sebabnya saya kurang sependapat dengan penggunaan “I try”. Menurut saya ketika kita mempolakan pikiran kita dgn kata can, secara gak sadar kita mem’push’ diri untuk bisa mewujudkan ‘can’ itu. ‘Can ‘ menjadi target pencapaian. Dan biasanya dalam kondisi yang stressing tinggi, justru potensi kita bisa maksimal keluar. Akan berbeda hasilnya jika kita cuma bilang,’ oke, aku coba deh!’. Nggak ada target yang pengen kita capai disitu. Disisi lain ketika kita mempolakan I can, gak berarti kita selalu bisa menjadi semua yang kita mau. Kita g bisa menjadi semua yang kita mau tapi kita selalu bisa menjadi apa yang Tuhan mau atas diri kita. Dalam konteks ini, kita harus benar-benar mengenali diri sendiri. Potensi kita, kebisaan, dan minat kita. Sebab ketika kita dilahirkan, Tuhan membekali kita dengan lengkap dan tepat. Setelah kita mengenal diri kita dengan baik, konsep ‘I can ‘ ini kita implementasikan. Untuk apa? Supaya kita bisa memaksimalkan apa yang telah Tuhan bekalkan buat kita. Tanpa ragu, tanpa khawatir, tanpa rasa takut. Sebab kita tahu memang ini yang Tuhan mau atas kita. Jadi ketika kita optimis dengan berkata, Yes, I can do this, itu gak berarti kita menafikkan Tuhan. Hasil akhir? Itu mah bukan urusan kita. We just do what we have to do, God do the rest. Hasil akhir itulah takdir. dan apapun hasilnya, no regrets karena kita sudah lakukan yang terbaik, seperti seharusnya.
    last but not least, Possunt Quia Posse Videntur… Kita bisa karena kita berpikir kita bisa 🙂

    [Hilal]
    Here is my wife :)Anyway, setuju dengan konsep Try dan Can 🙂 mengenai kita bisa menjadi yang Tuhan mau, well …. the problem is we don’t know what GOD want us to be 🙂 hence, we can only thing what is right based on His guidance, but what is fit for us ? let us choose, tentu saja, hasil adalah takdir Tuhan, itulah kenapa dalam posting saya ada 3 hal yang membuat kita harus yakin bahwa kita bisa yaitu … BELIEVE in GOD, CONFIDENCE with ourself and UTILIZE our teamwork .. jadi 3 aspek inilah yang menentukan.

  27. Terima kasih atas penjelasannya. Sangat mencerahkan. Dari penjelasan anda kalau menilik substansinya ternyata sama dengan apa yang saya maksud. Hanya mungkin yang ingin saya luruskan sedikit pada pemaknaan TRY.

    TRY yang saya maksud bukan dalam pengertian COBA yang bisa diartikan coba-coba yang terkesan tidak sungguh-sungguh. Namun TRY yang saya maksud adalah dalam pengertian UPAYA. I TRY it means saya upayakan. Tentu tidak dalam konteks coba-coba. Tapi sebuah upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

    Soal CAN -bisa- dan tidaknya tentu diukur dari hasilnya. Dan soal hasil, tentu kita sependapat bahwa itu mutlak kuasa ALLAH.

    [Hilal]
    Great 🙂 finally, we are on the same border 🙂 thanks for share mas Mahendra, it’s so nice

  28. Betul sekali, memberi limit pada diri sendiri akan membuat kita terkungkung dan tak pernah bisa maju. Tapi tidak mengetahui limit kemampuan diri sendiri juga bisa membuat kita terjerumus …

    [Hilal]
    Betul bu 🙂 sepakat … we have to know what we don’t know, to make us know , we have to find our weaknesses to make it strong, we have to know the border to remove that border 🙂

  29. Memang betul terkadang yang membuat limit seseorang itu terbatas ya orang itu sendiri. Juga yang membuat limit seorang itu tidak terbatas, ya orang itu sendiri juga.

    Di sini yang penting adalah selain semangat berjuang juga adalah semangat belajar yang tinggi, kalau bisa kita juga mengetahui apa yang terjadi di luar dunia kita, agar kita tidak menjadi ‘kura2 dalam tempurung’…..

    [Hilal]
    What a nice word !!, katak dalam tempurung, ya betul, kita harus meluaskan spektrum kita broaden our knowledge, supaya kita tahu ada di mana posisi kita, supaya kita bisa terus learning and growing, nice comment anyway.

  30. ah, yah… saya kadang berpikir bahwa saya lah yang membuat limit alias batasan buat saya sendiri. tapi, setelah mencoba dan mencoba, saya juga jadi paham bahwa kadang batas itu diciptakan oleh Tuhan, agar saya mengerti kemampuan diri saya sendiri, dan agar saya paham bahwa kapasitas saya terbatas…

    btw, nice post

    [Hilal]
    Ketika kita merasa “punya batas” dan kemudian menggangap bahwa batas itu “dibuat Tuhan” pada saat itulah sebenarnya “dummy border” itu kita buat. Masih ada hal ketiga yang harus kita usahakan, yaitu our network !!, we have to utilize them maximally …. dan rasanya kita harus berhati hati ketika mengambil kesimpulan bahwa “God already falling down His limit to us”, we have to be very careful 🙂

  31. Saya pikir “KPI sebenarnya adalah batas terburuk yang harus kita raih. Kita harus bisa melebihinya” adalah suatu paradigma yg menarik 🙂 Sehingga klo mau digamblangkan, mustinya istilah yg tepat adalah LKPI = Lowest Key Performance Indicator :mrgreen:

    [Hilal]
    Untuk konteks organisasi sih sudah benar, tapi untuk pribadi, saya setuju dengan anda 🙂

  32. “You CAN if you THINK you CAN!!”
    Buat saya, kalo bisa memprovokasi pikiran,,yang lain tinggal ngikut ajaaahhh…

    [Hilal]
    Nice and fancy word 🙂 Mind Provocation :), very nice 🙂

  33. sepakat,namun untuk bisa terus konsisten itu bagiku susah banget

    [Hilal]
    Ya, kita kan bukan malaikat 🙂 ada kalanya kita jenuh, boring, bete, etc. Yang penting kita segera sadar kepada tujuan akhir, dan kembali bersemangat.

  34. orang bisa kenapa kita nda bisa itu kalo menurut aku cih yang selalu ingin tau tentang banyak hal lam kenal mas

    [Hilal]
    That’s is a nice thing 🙂 orang lain bisa kenapa kita nggak ? 🙂 sama sama bisa lapar, sama sama butuh tidur, sama sama diberikan otak :), it’s just we have a willingness and commitment or not 🙂 that’s all.

  35. berpikirnya positif ya pak! Kalau kita yakin bisa ya bakal bisa, tapi kalau belum belum kita sudah gak yakin bakal bisa, ujungnya gak bisa beneran. apa gitu ya?

    [Hilal]
    Lebih jauhnya akan seperti itu,we are what we think we are 🙂

  36. Mampir lagi mas 🙂

    Dalam personality konsep seperti yang mas Hilal sampaikan nampaknya kita punya entri point yang sama dan saya setuju, tetapi maksud saya, jika dilihat dari konteks sebab-akibat….saya tidak melihat ketika seseorang mampu melakukan sesuatu yang menurutnya semula tak bisa dia lakukan, adalah sebagai sebuah “breaking the limit”, tetapi optimalisasi kapabilitas personal. Karena manusia sudah diciptakan dengan “limit” nya masing-masing…maka buat saya tak mungkin seseorang bisa menabrak “his/her own limit”.

    Jika bahasa yang digunakan adalah “kenali potensi Anda”…or “Optimalisasi potensi diri”…saya sepakat. But Breaking the limit…ya ini hanya beda point of view aja mas…

    Btw ttg konteks perempuan vs laki-laki…yang saya bicarakan sebelumnya adalah konteks fisik (bukan potensi akademis dan intelegensia). Dan secara ilmiah, konsep biologis dan fisiologis perempuan dan laki-laki yang berbeda nampaknya tak perlu diperdebatkan lagi. Nah…jika kemudian ada petinju perempuan, binaragawati….he he…maaf mas…kayaknya saya masih belum bisa menerima emansipasi model gini.

    Ok thank anyway…
    Makasih atas kunjungannya ke blog saya
    Saya link ya blog nya.

    [Hilal]
    Well, sedikit banyak saya mulai mengerti sudut pandang Ibu Yeni, seem that we have different entry point. Ibu Yeni melihatnya pure diri sendiri, sementara saya melihatnya dari 3 sisi, yaitu aspek Power of God, Power of Our Self dan Power of Network. Dengan ijin Tuhan seseorang bisa melakukan sesuatu, dengan kekutan diri sendiri kita bisa breaking semua hambatan yang muncul dari sendiri terutama aspek emosi dan konsepsi, dan dengan kekuatan network, kita bisa membuat sesuatu yang tidak bisa dibuat sendiri, kalau sendirian kita tidak akan bisa ke bulan atau ke luar angkasa, tapi karena menggunakan teamwork, banyak orang bekerja bersama, maka kita bisa mulai membuat pesawat Apollo, mengorbit ke ruang angkasa dan sebagainya, sendirian kita tidak bisa menembus bumi untuk mengambil kandungan alam yang ada seperti minyak atau batubara, tapi karena ada orang orang yang menciptakan alat drilling, pengeboran, maka hal itu jadi mungkin, sendirian kita tidak bisa membuat internet concept, tapi karena banyak orang yang melakukan development untuk mengembangkan konsep internet, jadi bisa. Nah inilah yang saya maksud. Bahwa manusia tidak bisa terbang secara fisik dan harfiah, itu benar, tapi bahwa kita bisa terbang layaknya burung dengan bantuan alat, it’s possible, manusia tidak bisa hidup di air seperti ikan dengan insang, tapi dengan bantuan alat, kita juga bisa. Inilah yang saya maksudkan sebagai breaking the limit, as long as we have a dream, willingness and commitment, anyway, thanks to link my blog. Saya akan link balik ya

  37. Memang banyak yang beranggapan begitu. Harusnya mencoba dulu karena apapun yang menurut kita nggak bisa, belum tentu nggak bisa beneran.

    [Hilal]
    Yupe, aggree mas Edi. Thanks.

  38. Salam,
    Tulisan yang bagus….kata orang bijak, apa yang bisa kita lakukan, persis sama dengan apa yang kita pikir kita bisa lakukan. Semoga semakin banyak orang yang percaya diri bahwa mereka sesungguhnya bisa melakukan banyak hal, termasuk yang semula mereka pikir tidak bisa. Just try…just do…..life is an adventure….

    [Hilal]
    Hi, thanks, nice comment and share anyway 🙂

  39. yang penting mah emang usaha… ga bisa? usaha lagi… ga bisa?? usaha lagi… ga bisa lagi??? yah… sebisanya usaha… tapi jangan sampe mati konyol aja karena usaha yg sia2… 😉

    [Hilal]
    Jika kita fokus sekali dont worry, Thomas Edison baru berhasil di percobaan yang ke 1001 ketika menemukan listrik 🙂 dan sebenarnya itu kan bukan kegagalan 🙂 itu adalah kesuksesan yang tertunda 🙂

  40. Semangat I CAN kayaknya perlu ditumbuhkan sejak dini, biar kalo udah dewasa gak cengeng lagi. Akibat kurang dipompakan semangat yang bersifat fight itu banyaklah kita yang bermental kerupuk kalo menghadapi hal diluar limit kita, termasuk saya. 🙂

    [Hilal]
    Agree mas Alris, kita harus punya fighting dan survival spirit 🙂

  41. tulisan dengan contoh faktual.sangat memotivasi!
    juga penting bagaimana mengurangi noise spirit agar tidak terlalu tajam. mungkin bisa diulas. lho kok malah minta?

    [Hilal]
    Saya terima pesanan kok mas, bisa dielaborate maksudnya ? saya akan dengan senang mengulasnya kalau saya bisa

  42. Kadang hanya bermodal “I CAN” tanpa “SPIRIT TO START” bagaikan pemimpi mas, semangat batin ada tapi semangat lahirnya gak ada… ya seperti saya ini 😀

    btw, thanks sudah mengunjungi blog saya 🙂
    salam kenal dari Fosil-X Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s