Home

“Love yourself, for if you don’t, how can you expect anybody else to love you?” — unknown —

Suatu ketika, anak kedua saya — Dimas–, yang masih berumur 2 tahun, berkata pada saya di telepon — dengan bahasa dan intonasi yang sangat lucu tentu saja, mengingat dia baru bisa bicara–, “baah, ada permen, habiss, buat babahh”, maksudnya, Dimas punya permen, dia sudah ambil, tapi dia sisakan untuk saya. Ketika saya bertemu dengannya di rumah, dia memberikan permen mentos satu bungkus, untuk saya, sudah termakan 1 biji untuknya. Sambil duduk supaya tinggi saya sama dengan tingginya, saya memandang matanya dan memegangi bahunya, “terimakasih ya dimass, muuach”, saya cium pipinya. Tapi ada satu hal yang lupa saya lakukan, sampai istri saya menyadarkan saat itu juga, istri saya bilang “diterima dong bah permennya”, dan saya langsung mengambil permennya, “terimakasih ya adeeek”, saya menerima pemberiannya.

————————————————–

Sore, 11 January 2009, sekitar jam 2.00, Dimas menemukan mainan lamanya, mobil mobilan yang memiliki kunci untuk dimainkan. Butuh sedikit tenaga untuk memasukkan kuncinya dan butuh cara yang sedikit unik untuk memainkannya. Dimas bilang — masih dengan intonasi yang sangat lucu — “bah, gi ma na baaah” — katanya sambil matanya berbinar melihat saya, ahhh, rupanya dia ingin tahu bagaimana caranya, lalu saya tunjukkan caranya — ingat , dengan bahasa yang lugas , tidak cadel –, dan huplaaaa .. luar biasa, 3-4 kali mencoba dia sudah bisa, saya sangat ta’jub dan saya bertepuk tangan dan mata saya berbinar binar, “horeeee adik hebatt, adik pintar”. Dan begitulah, dia melakukannya terus, dan setiap kali berhasil pasti dia bilang “bah, adik bicaaa(read:bisa) bahhh” .

——-

Begitu juga, hari dan waktu yang sama, Icha, yang sudah 6 tahun, bermain dengan block think fun. Permainan menata kotak kotak plastik menjadi bentuk bentuk yang sesuai dengan bentuk dikartu. Ada 7 block dengan bentuk yang berbeda beda. Cukup sulit, dan setiap icha bisa membuat bentuk yang sesuai, saya memujinya “wah, kakak hebat”. Dan hari ini, saking senangnya, Icha ingin membawa Edu game nya ke sekolah. 

******************************

Self-Esteem, itulah yang ingin saya share dari cerita di atas, memberikan pujian kepada anak ketika mereka berhasil melakukan sesuatu akan membuat penghargaan anak kepada dirinya sendiri menjadi tinggi, membuat mereka confidence atas diri mereka sendiri, dan bisa mencintai diri mereka sendiri. Dan penghargaan yang saya berikan dengan tidak berbasa basi adalah bentuk respect yang sangat membantu tumbuh kembang jiwa mereka, saya sangat meyakininya !

Tapi bukan hanya anak anak, ketika team saya di kantor berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan, biasanya saya akan memberikan pujian kepada mereka, dan membroadcast hasil pekerjaan mereka ke semua team yang ada. Ini adalah bentuk recognition dan rewarding yang — murah — tapi sangat esential. Bagaimanapun , penghargaan yang meningkatkan self-esteem adalah basic human need, selain kebutuhan fisik, keamanan, keselamatan, financial dan lain sebagainya.

Kebutuhan untuk dihargai menjadi stimulus yang sangat baik dan menjadi syarat bagi self-actualization, aktualisasi diri. Orang tidak akan bisa memiliki self-actualization jika tidak memiliki self-esteem. Dan menumbuhkan self-esteem adalah tanggung jawab saya sebagai ayah pada anak anak saya, dan tanggung jawab saya sebagai super ordinat dari sub ordinat saya.

Self-Esteem , anda bisa mengatakan juga self-assurance, atau self-respect merupakan konsep diri atau keadaan di mana kita sangat menghargai diri kita, bahwa kita sangat bernilai, kita competent, dan kita punya eksistensi yang seharusnya diperhitungkan. Tentu saja bukan Narscissism yang merupakan bentuk self-love yang sangat keterlaluan dan excessive,  apalagi rasa rendah diri (inferior personality disorder).  Self-Esteem adalah stabilitas emosi dan kepercayaan bahwa diri kita punya dignitycompetent , deserve dan worth.

Saya sangat percaya, jika ingin anak anak atau keluarga kita tumbuh dan menghargai diri mereka sendiri, cobalah selalu memberikan penghargaan yang tulus, berikan respect.  Dan respect akan tumbuh dengan ketulusan jika kita bisa berpikir bahwa apa yang mereka lakukan memang layak dihargai, bahwa mereka bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik dari kita, dan belum tentu kita bisa melakukan sebaik mereka !. Adalah sebuah keajaiban bahwa anak anak kecil bisa belajar dengan cepat dan mengerti dengan cepat apa yang bisa kita ajarkan !

Sekarang, pertanyaannya, apakah kita bisa memberikan penghargaan kepada orang lain dan menumbukan self-esteem dan self-respect kepada orang lain jika kita sendiri belum memilikinya ?, saya tidak akan menjawabnya disini 🙂 mudah mudahan ini bisa jadi PR buat kita semua 🙂 — walau sebenarnya saya sudah memberikan jawabannya di posting ini jika anda jeli 🙂 —

Peace !! 🙂

Advertisements

13 thoughts on “Self Esteem

  1. Wah sebuah cerita dan paparan yang menarik pak Hilal. Saya juga pernah membaca sebuah buku yang memberikan penjelasan tentang Self-Respect dan Self-Esteem ini. Mungkin saya mau coba berbagi juga disini 🙂
    Self respect bisa kita bayangkan sebagai sebuah hard-Disk yang menyimpan semua yang kita ketahui dan kita percayai tentang diri kita. Self Esteem merupakan komponen di dalamnya disamping dua komponen lain dimana ketiga tiganya akan membentuk seperti potongan potongan kue:

    Self Respect terdiri atas 3 komponen:
    1. Self Ideal
    Self Ideal berkaitan dengan impian akan seperti manusia seperti apa kita ketika hidup di dunia ini. Hal ini bisa juga didapatkan dari orang lain yang dinilai kita sebagai sebuah pribadi yang ideal, sehingga kita berusaha untuk mengikutinya. Self Ideal juga bisa diartikan sebagai visi dan misi dari kehidupan kita maupun orang lain yang paling kita sukai.
    2. Self Imej
    Bagian ini adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri dan bagaimana pendapat kita tentangnya. Bagian ini juga bisa disebut sebaai “self Mirror”.
    3. Self Esteem
    Self esteem bisa juga diartikan sebagai bagaimana kita menyukai diri kita sendiri. Semakin kita menykai diri kita sendiri semakin baik hasil pekerjaan kita di bidang apapun yang kita tekuni.

    [Hilal]
    Wah, manstab !! 🙂 thanks alot Aldry 🙂 luar biasa 🙂

  2. Setuju!!!
    Temen2 di sekolah juga klo hasil kerjanya dipuji pasti jadi semangat kerja.
    Trus klo misalnya ada yg muji aq, rasanya jadi pingin brusaha lebh keras lagi tuk jadi lebih baik..

    [Hilal]
    Seeeepppppp …..

  3. thanks for dropping by! 🙂 you are just right … without self-esteem there wouldnt be self-respect indeed 😉

    [Hilal]
    Yupe 🙂 correct 🙂 thanks for coming wafer

  4. Kepada anak yang lebih besar, kalau saya perhatikan
    Begitu mereka melaukan hal-hal yang walapun sebenarnya itu “sederhana”, selain di beri pujian biasanya saya sama2 dgn rokoh2 terkenal.. Kalau sudah begitu si anak jadi lupa kalau kita memujinya secara berlebihan dan mulai berfikir dan membayangkan tokoh yang di”sanding”2kan dgn dirinya. Contoh ketika anak saya les musik, (belajar key board) ketika gurunya mengatakan pada saya bahwa anak saya sgt cept sekali menangkap pelajarannya, begitu selesai saya katakan pada anak saya, wah bakal lahir Mozart2 mudah nih (kebetulan dia pengagum mozart).. setelah kata2 ini si anak begitu senang dan saya bahkan gak tau sejak kapan dia bisa maen gitar begitu saat cuti kemaren minta dibelikan gitar listrik!!. Ternyata self esteem mebuatnya semangat dan mampu mengaktualisasikan diri dan mengexplore /maksimalkan kemampuannya ( belajar gitar otodidak dan mayan bisa)sekalipun mungkin kesimpulan saya ini agak berlebih dalam hal ini) sejutuju ma teori motivasi by Abraham H maslow

    [Hilal]
    Wah, nice sharing and experience bu Rita, betul ,setelah sel-esteem anak akan secara extrem belajar lebih cepat kalau dia tetap dalam kondisi self-esteem yang stabil, dan akan menuju ke hirarki selanjutnya yaitu self-actualization, begitu kata Abraham Maslow 🙂 once they are confidence and feel they are exist, they can do everything 🙂

  5. Maksudnya saya suka menyama2kan/menyandingkan dgn tokoh2 terkenal atau tokoh idolanya

    [Hilal]
    Ya betul, kalau ternyata anak memang punya idola, maka menyamakan dia dengan idolanya akan memberinya stimulus untuk benar benar menjadi seperti idolanya 🙂 it’s a nice method 🙂 i love that, meski tidak semua orang punya karakter untuk memiliki idola, kadangkala anak dengan model independent dan confidence level yang tinggi tidak membutuhkan idola, dan dia suka dengan caranya sendiri. Anyway, those both method will be effective based on the condition ya tentunya. Nice discussion Ibu Rita

  6. Waahh… artikel-artikel pak Hilal luar biasa, menginpirasi. Salam kenal 🙂

    [Hilal]
    GR Mode on 🙂 terimakasih pak, semoga bermanfaat buat kita semua

  7. mmm…kebutuhan di hargai…
    manusia memang butuh itu, kebayang gak kalau kerja di dalam team yang meganggap senioritas itu penting…apa jadinya kalau kita ingin mengambil keputusan untuk project2 tertentu walau pun benar secara angka dan teori tetepai tidak meminta pendapat senior *walaupun nanti jawabannya sama dengan keputusan kita* tetep aja senior itu tidak akan merasa di hargai 😀

    memberikan kata Terima Kasih, Thank, atau minta pendapat dunk…mungkin adalah cara memberikan kesan menghargai orang lain…

    Nice post Pak…:)

    [Hilal]
    Nice response and sharing, sangat bermanfaat dan mencerahkan, thanks alot

  8. Iya mas ada juga yang kekeh gak mau berkiblat ke siapapun, itu terjadi pada anak saya yang cowok, karna pengalaman pada si kakak diatas tanpa saya sadari hal seperti itu saya lakukan ke ana lelaki saya saat itu dia memimpin sholat jamaah dala acara maulidan, ingat betul waktu selesai saya bilang gini, Wah si abang hebaatt euyy nanti bisa jadi presiden kalo suka mimpin, kaya “presiden Suharto” (saya termasuk “ngefans” ma pak presiden Soeharto).. serta merta dia jawab, aku maunya jadi presiden aja aku maunya sendiri!.(maklum masih tk B saat itu) namun saya dpt menangkap maksudnya bhawa dia ingin jadi presiden karena dengan style, kemampuan, potensi -nya sendiri…
    Disis lain saya juga senang bila anak2 melakukannya karena itu adalah hasil pemikiran,kemauan dan perjuangan sendiri
    gak mesti “ngikut2 ” melainkan kreasi sendiri (inovatif ) (tentu dengan hal2 kecil, sederhana)

    [Hilal]
    Oh my GOD 🙂 anda punya dua duanya ? amazing 🙂 1 anak punya idola, 1 lagi independent 🙂 very good 🙂 chalange buat orang tua untuk memberikan arahan dengan style yang berbeda 🙂 so nice and should be exciting 🙂

  9. Kita sebagai orang tua memang selalu berusaha memberi anak semangat, sehingga anak tidak minder, sudah seharusnya kita orang tua memberi penghargaan kepada anak kita, yang bisa membuat anak kita percaya diri. dalam mendidik anakpun saya berusaha memberi kebebasan yang bertanggung jawab sehingga jika anak melanggar apa konsekwensinya. ok salut buat bapak.

    [Hilal]
    Hai Ibu, terimakasih, benar, kebebasan yang bertanggung jawab ….

  10. Suami saya dulunya jarang memuji hasil karya anak kami. Mungkin karena keluarga Jepang jarang menyampaikan pujian dan terus menerus menuntut yang terbaik. Saya sering berkata dalam bahasa Inggris supaya memuji anaknya. Sehingga akhirnya anak saya selalu ingin memperlihatkan hasil karyanya pada papanya. Tapi satu yang saya rasa jelek adalah dia selalu berkata, “Lihat gambar Riku…bagus kan?”. Sedikit demi sedikit saya beritahu agar jangan berkata begitu di luar rumah, karena tidak semua orang senang mendengar perkataan anak yang sombong. Balance yang sulit.

    [Hilal]
    Hi Bu , nice share, ya benar, pada implementasinya, self-esteem memang harus balance, antara superior sehingga menjadi narsis dan inferior sehingga menjadi minder … self-esteem memang harus diatur sedimikian rupa menjadi sebuah sense of pride … bukan excessive self-loving apalagi inferior personality disorder … itulah seninya menjadi orang tua ya 🙂 membatasi sebuah kebanggaan yang tidak menimbulkan kesan sombong, dan menumbuhkan kebanggaan agar keluar dari keminderan ….. it’s an ART !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s