Home

“anak nakal tidak dilahirkan, tapi diciptakan–oleh orang tua, lingkungan, etc–“, Nanny 911

Beberapa waktu yang lalu, icha — anak pertama saya — menelepon saya, “babah, kirimkan DVD kakak ya, kakak mau lihat di sini”

Saya sedang didepan laptop, saya segera buka NOTEPAD, dan saya bertanya pada icha, “OK, DVD apa saja kakak, babah kirim besok insyaAllah, babah catat ya, coba sebutkan “, ada 4 DVD, dan semuanya saya catat di NOTEPAD , and being saved !

Pelajaran pertama menurut Nanny 911, jangan remehkan anak kita, dengarkan apa yang dia bicarakan, dan jika berjanji, mean it !. Karena aturan itulah saya mencatat nya, karena memang saya bermaksud sungguh sungguh untuk mengirimkannya dan berharap tidak lupa pada list yang disebutkan. 

Beberapa saat kemudian, mamahnya yang telpon, dan saya ceritakan permintaan icha, ternyata mamahnya tidak setuju, dan meminta saya untuk tidak mengirimkannya, alasannya cukup logis, yang pertama anak saya tidak bisa menontonnya dengan leluasa karena sedang dirumah neneknya, dan waktu liburannya hanya sebentar, nanti juga kembali dari liburan lagi dalam waktu dekat, juga akan menambah beban barang bawaan saja ketika pulang. Make sense !, dan saya berubah pikiran, dari yang tadinya mau mengirimkan, jadi membatalkan. Saya mengeliminir rasa kasihan saya menjadi sesuatu yang lebih rasional.

Pelajaran kedua dari Nanny 911, keluarga adalah teamwork, ayah dan ibu harus berusaha untuk menghasilkan hanya 1 keputusan final, saling support , saling sepakat, tidak saling berbeda keputusan sehingga anak anak bingung, boleh pada awalnya berbeda pemikiran, tapi at the end, harus ada 1 keputusan untuk anak anak. Anak akan menghormati keputusan kedua orang tua, dan akan kehilangan respect jika kedua orang tuanya saling berbeda pendapat dan tidak bisa bersepakat. Bukankah sering begitu ? si Ibu melarang anak keluar, sementara sang ayah membolehkan, atau — diam saja–, jadilah anak memberontak. Kalau si Ibu melarang, Ayah melarang dan having a justified reason, besar kemungkinan anak akan menurut dan setuju, tapi jika Ibu melarang, Ayah diam saja atau membolehkan, anak — secara naluri– akan mencari jalan instant dengan “mengadu domba” dan punya kesempatan untuk melanggar permintaan Ibu. Jadi, ayah dan ibu, harus sepakat menghasilkan 1 keputusan ! sebisa mungkin.

Baiklah, karena mamanya tidak setuju, dan ternyata saya setuju dengan pemikirannya, saya akhirnya mengirimkan SMS pada icha, “Kakak, kata mamah nggak usah kirim DVD, karena susah nontonnya dan bawa pulangnya juga susah, babah pikir seperti itu juga. Jadi  nggak usah dikirim ya, nanti liatnya di Jakarta saja, maaf ya kakak”
Oh ya, icha masih kelas 1 SD, umur 6 tahun, dan kata kata di atas adalah persis kata kata di SMS yang saya kirim, saya menconteknya di Sent Item PDA saya.

Pelajaran ketiga dari Nanny 911 adalah komunikasi dengan benar, anak berhak diajak bicara dengan bahasa kita –tentu saja sesuai kemampuannya-, tapi bukan berarti kita bisa membohongi –semisal jalannya nakal ya !!, ketika anak kita jatuh –, anak berhak mendapatkan informasi yang benar, dengan tata bahasa yang benar, sebagaimana kita berbicara, tidak benar sebenarnya ikuta ikutan berbicara cadel pada anak, karena anak akan menganggap cadel adalah kosakata yang benar, meskipun anak masih cadel karena belum matangnya alat artikulasi, tapi anak harus tahu bahasa dan kata yang benar. Dan orang tua harus gentle, kalau salah ya mengaku salah dan minta maaf !

—————————-

Waktunya bangun, waktunya mandi, waktunya belajar, waktunya makan, waktunya tidur siang, waktunya  bermain, waktunya les, waktunya sekolah waktunya nonton TV, saya pikir hampir semua keluarga memiliki rutinas seperti ini. Ya bagus. Jangan sampai keluarga kita berjalan tanpa jadwal dan acak adul. Itu pelajaran keempat dari Nanny 911. Seringkali anak anak kita akan berkilah, nggak mau bobok siang, keasikan bermain, lupa waktu makan dan sebagainya. Anak harus diberikan aturan yang membuatnya disiplin dan tahu proporsi waktu yang benar.

Ah ya, bagaimanapun, saya sudah belajar untuk masa depan saya ketika saya duduk dibangku sekolah dulu, saya sudah belajar dari rekan rekan saya supaya bisa survive di kantor, tapi sebagai suami, sebagai ayah, saya harus juga belajar. Dari buku, dari internet, dari rekan rekan, dari pengalaman saya jadi anak, dari istri, dan dari siapapun. Salah satunya saya belajar dari buku Nanny 911: Expert Advice for All Your Parenting Emergencies, atau dengan melihat tayangan acaranya di Metro TV.

Belum tentu semuanya benar, belum tentu bisa diapplikasikan semuanya, dan belum tentu juga fit our family, tapi tidak ada salahnya membaca, yang jelas, saya suka bukunya, beberapa bagian menjadi teori dan penjelasan atas kesalahan persepsi saya selama ini, dan menjadi semacam guidance untuk langkah dan konsepsi saya selanjutnya. Bagaimanapun, kita harus berusaha, semoga Tuhan membantu kita. Aamiin.

Advertisements

15 thoughts on “family

  1. hehe….kadang teori ini sudah nongkrong dikepala, tapi kadang gak sesuai sama kenyataan di depan mata. gampang susah juga ya Mas. Salam kenal.
    Kunjungan balik nih.
    Anak saya enam, anak Anda berapa Mas…? (tanding banyak-banyakan ya….)

    [Hilal]
    ya betul tapi tidak apa apa, teori bisa untuk guidance kita melakukan sesuatu, tapi bisa jadi akan muncul teori baru dari pengalaman kita, namanya juga manusia pak, seringkali ada ambiguitas antara konsep di kepala dengan apa yang kita lakukan, ada kontradiksi antara logika dan hati, antara emosi dan fisik. Kata orang, pertarungan terbesar dan tidak pernah selesai adalah pertarungan dengan diri sendiri, mengawinkan antara teori dan aksi, hati dan logika, fisik dan psikis, Itulah seni :), oh ya, alhamdulillah, anak saya 2 mas. Dan tentu saja, saya harus belajar banyak nih sama pak Habib

  2. whew!! bener2 nerapin advices dari para Nanny itu yach?
    saya belom selesai ngebaca salaam…
    makasih dah mampir di rumah kecil saya en di link di sini
    salaam…
    🙂

    [Hilal]
    mungkin sudah kita terapkan, hanya not documented, ya kan, nanny mungkin penerapan teori dari orang orang tua kita jaman dulu kala, persis seperti newton memberikan gravitasi untuk suatu hukum alam yang sebenarnya sudah ada — , thanks sudah mampir

  3. Satu pelajaran berharga buat saya nantinya…
    Makasih mas udah sharing nih…

    [hilal]
    aamiin, it’s good to know that it was usefull

  4. Mungkin karena budaya (loh, kok cari kambing hitam … hehehe), kita cenderung memperlakukan anak sebagai ‘manusia kecil’ yang ‘tidak perlu tahu persoalan’. Pokoknya ikut kata orang tua, dan seterusnya, sehingga orangtua sering kali tidak mengikutsertakan anak dalam menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Anak tidak dimintai pendapat, tidak diajak bicara. Padahal anak-anak pun sebenarnya punya keinginan dan pendapat sendiri, yang sering kali tidak se’bodoh’ yang diduga orangtua. Apalagi di zaman sekarang, anak-anak bisa mengakses informasi yang begitu luas dari berbagai sumber.

    [Hilal]
    Ya bu, betul, kadang budaya primordial membuat orang tua menjadi otoriter, power syndrom dan keinginan untuk selalui di akui dan dihormati juga menjadi masalah sendiri yang tidak disadari orang tua, celakanya, seperti kata ibu, anak anak sekarang menemukan baby sitter baru dari TELEVISI, dari internet, dari sekolah, tempat mereka bisa berlari dari “monster orang tua” dan memilih apapun yang mereka suka dan mau. Orang tua orang tua baru 🙂 ada di mana mana

  5. Koordinasi yang baik Mas.. salut tuk anda + istri, kompak..semoga icha tumbuh menjadi perempuan sholehah dan mempunyai pribadi yang baik..karena selalu dibekali tata cara, bimbingan hidup yang baik dari orang tuanya..

    [Hilal]
    Aduh, terimakasih ya Ibu Emma, semoga doanya dikabulkan, demikian juga dengan ibu, aamiin, terimakasih sekali lagi ya bu

  6. Mas Hilal …
    Ternyata 911 menginspirasi banyak hal ya Pak …
    Terus terang saya baru sekali nonton yang full kemaren waktu liburan tahun baru …
    Episode keluarga Detektif yang punya anak 3 orang … 2 lelaki dan satu perempuan … bandel-bandel
    Banyak pembelajaran disana …

    Thanks Pak ya …

    Dan satu lagi …
    Saya akan sering datang kesini …
    Boleh ya Pak …
    Salam saya Pak …

    [Hilal]
    Wah pak, it’s good to know that you are interested also, benar pak, anak kecil kan sangat amaze, unik dan exciting. Saya juga banyak belajar dari Nanny 911 book edition. Terimakasih untuk kunjungannya Pak Naher. Saya juga suka sekali dengan blog bapak

  7. dari 4 yang bapak sebutkan, saya mungkin paling ngga bisa dengan jadwal teratur. Mungkin krn dulu saya waktu kecil terlalu ketat pada diri sendiri, jadinya ingin lebih loose pada anak. Tapi yang pasti keputusan terakhir selalu saya serahkan pada suami sebagai kepala keluarga. Kalau bapaknya anak-anak bilang OK, then saya juga OK.

    Saya mencontoh ibu saya yang begitu … terutama waktu bapak saya bilang OK wkt saya mau menikah dengan orang asing, padahal ibu saya sebetulnya (saya tahu) dia tidak suka… karena harus berpisah seterusnya.

    Di sini tidak ada acara nanny 911, jadi saya tidak bisa membayangkan tapi saya rasa semua keluarga sebetulnya sudah punya “ideal family” masing-masing.

    EM

    [Hilal]
    Terimakasih Ibu Imelda buat komentarnya, ya saya setuju, pada akhirnya keluarga akan punya rule ideal yang disesuaikan dengan kondisi masing masing, yang penting adalah kesadaran dan awaress dari orang tua terhadap masa depan dan attitude anak anak nya, as long as anak bisa kita arahkan untuk mandiri, respect to their parent on reasonable reason, it should be good , bukan begitu ibu Imelda, anyway thanks alot ya bu, really appreciate your comment here

  8. Wah, sungguh baik bagiku sbg referinsiku untuk menjadi ayah yang baik kelak. Mohon doanya pak.

    [Hilal]
    Aamiin, mudah mudahan ya mas, saya juga demikian, mudah mudahan bermanfaat, aamiin

  9. Assalamu’alaikum, nenggok mas Hilal ah. Kenuzi50 nih, mas. From Bekasi with love… he…he…..he…

    [Hilal]
    Hi Mas, wa’alaikumusalaam, thanks mas kunjungan baliknya 🙂

  10. Halo mas, maaf baru telat mampirnya..
    Tulisan yang bagus mas, saya sudah mempraktekannya sejak lama. Alhamdulillah keempat anak saya bagi saya termasuk anak-anak yang penurut dan menyenangkan…
    Teori diatas kalau benar2 dipraktekan it works kok…

    Salam
    DR

    [Hilal]
    Wah, ini namanya baru testimony dan customer reference 🙂 thanks alot pak, memang, kalau kita ikuti sesuai dengan konteks dan kondisi kita masing masing, insyaAllah akan berguna dan bermanfaat

  11. Wah Bang Hilal, rupanya penganut paham 911. Saya juga suka tuh nonton Nanny 911, meski belom berkeluarga….. Persiapan masa depan, itung2 belajar ngasuh anak…..Thanks commentnya bang

    [Hilal]
    Hehe, seperti aliran aja ya pakai pengikut 🙂 saya sih baca bukunya pak, mudah mudahan memang bermanfaat ya buat kita semua, aamiin

  12. jadi merasa bersalah sama anak saya, sering nggak ndegerin dan menganggap remeh.
    salam kenal pak. saya link ya..

    [Hilal]
    Tidak ada kata terlambat pak, menyadarinya adalah sebuah langkah besar, salam kenal juga ya pak, semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s