Home

“we have to listen what is saying, and what is not saying ” — unknown —

Suatu ketika, salah seorang Supervisor datang ke meja saya dan menanyakan keberadaan Managernya. Kira kira seperti ini conversation waktu itu

Supervisor : “Mas, mas XX ke mana ya ? ”
Hilal : “Lagi meeting tuh di Surabaya room”
Supervisor : “Meeting apa ? ”
Hilal : “Meeting xxxx, seharusnya kamu ada di situ”, lalu saya melihat calendar invitation , dan melihat memang namanya tidak ada di meeting invitation tersebut.
Hilal : “Oh iya, namamu tidak ada tuh, nggak diundang berarti, padahal harusnya kamu ada di sana, kan kamu yang berkepentingan, kamu dianggap nggak penting kali”, sambil berkelakar
Supervisor : “Oh , OK !!”

Dia membalikkan badan dan bersiap pergi dari ruangan saya. Sebelum pergi saya bilang padanya bahwa meskipun dia bilang “OK”, tapi sebenarnya dia ingin mengatakan “Tidak OK”, tarikan nafasnya, body languange nya, kerut dahi dan gerakan bola matanya menunjukkan fakta berbeda dari apa yang dia ucapkan. Intonasi dan kecepatan ketika mengucapkan kata “Oh, OK” juga menunjukkan ambiguitas dan terlihat kontradiktif. Dia tersenyum, dan akhirnya dia mengemukakan fakta yang sebenarnya bahwa memang dia merasa aneh kenapa tidak diundang di meeting tersebut.

*******

Dalam melakukan komunikasi, yang justru lebih patut kita percayai bukanlah kata kata yang terucap (verbal). Tapi justru pada kata kata yang tidak terucap (non verbal). Orang bisa saja mengatakan “Ya, saya tidak ada masalah denganmu”, tapi ketika dia tidak berani melakukan kontak mata, posisi tubuhnya tampak defensif, terlihat cemas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dia punya masalah. See, we can read them like we read the book !!!

Kita bisa membaca dan memaknai orang lain meskipun tidak terucap.
Dalam berkomunikasi, ada 3V yang harus kita perhatikan, dan masing masing punya kontribusi terhadap komunikasi yang terjadi :

  1. Verbal (7%), kata kata yang diucapkan
  2. Vocal (38%), tone of voice, bagaimana kata kata itu diucapkan, kita bisa melihat intonasi, tekanan suara, kecepatan, ketinggian nada, lafal, volume, repetisi yang terjadi dan sebagainya. Kita berbicara tentang paralinguistik di sini.
  3. Visual(55%), ini adalah bahasa tubuh kita, body language, misalnya kontak mata , ekspresi wajah, bentuk bibir, kerutan mata, perubahan bentuk pupil, posisi tubuh, gerakan kepala, jarak yang dibuat, jabatan tangan, sentuhan, diam, artifak(cara berpakaian, berdandan) dan sebagainya.

Point nomor 2 + 3 adalah Non Verbal. Coba lihat, Aspek non verbal sendiri memainkan peran dan berkontribusi 93%, sementara sisanya (7%) adalah aspek verbal. Tentu saja, seharusnya terjadi keselarasan antara ketiga aspek tersebut. Tapi jika terjadi discrepancy, percayalah, sebaiknya kita lebih mempercayai aspek non verbal (Vocal dan Visual). Karena aspek verbal sebenarnya tidak begitu relevan.

If we can read them like the book, vice versa !, we are the book and can be read. Kita juga adalah buku yang bisa dibaca. Maka jika ingin berkomunikasi dengan efektif, kita harus memperhatikan 3V tersebut !.

Apalagi jika anda menghadapi bos anda :). Bos anda mungkin dengan mudah menemukan kebohongan dalam penjelasan anda jika nada suara anda tidak mengandung unsur keyakinan, ada inkonsistensi nada, ada kecemasan, apalagi jika gerakan bola mata kita nampak tidak confidence. Be ware !! 🙂

Tips nya sederhana .. be honest !! never hide the fact !!. Tentu saja kita tidak ingin malu, jika tidak ingin malu dan tetap ingin jujur, ya mau tidak mau kita harus commit dengan pekerjaan kita, harus aware dengan apa yang terjadi. Jadi tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Tidak perlu bohong sama bos, dan tidak mudah dibohongi anak buah anda !!!

Let’s read them like we read the book ! and be ready to be read !!

Advertisements

7 thoughts on “we can read them like a book

  1. Yup body language memang lebih mempengaruhi dalam pergaulan dibandingkan sekedar ucapan. Cuma kadang ada juga orang yang bahasa tubuhnya tidak terlihat seperti apa adanya. Pernah ada seorang aktris hollywood (namanya lupa Evy), dia orang nomor satu di dunia yang bisa tersenyum palsu, maksudnya senyumnya itu sebenarnya tidak tulus, dan jika dilihat lebih teliti, ga bakal ketahuan kecuali dilakukan dengan rekaman lambat dan detil. ini berdasarkan pengalaman penelitinya sih. Tapi itu sih satu di antara seribu kali ya.

    Let’s learn and practice to be honest 🙂

    [Hilal]
    Yupe, setuju, practice make perfect

    salam pak Hilal, apa kabar? ini hanan, inget ga yah.

  2. Statistik diatas agaknya hanya berlaku pada orang-orang yang bereaksi secara wajar. Namun tidak berlaku orang-orang panggung dan public figure.

    Kawan saya, almarhum Ivan Aldino, pernah berucap bahwa aktor yang paling jago justru bukan mereka yang berkecimpung di dunia seni peran baik film maupun teater, melainkan politisi… Karena kehidupan politik itu adalah panggung buat mereka.

    Dalam bahasa yang lugas dia mengatakan, “Kalau politisi itu actingnya 24 jam….” 😀

    Nice blog… Keep on the track Bro….. 😉

    [Hilal]
    Ya, sedikit banyak saya setuju, tapi jangan lupa, ada banyak anggota tubuh yang tidak bisa dikontrol. Harus benar benar pandai untuk bisa menipu diri sendiri 🙂 anyway, thanks for comment

  3. Wah, benar sekali. Diri kita pun layaknya buku yang dapat dibaca siapa pun. Raut wajah, intonasi, gerakan mata, dan percaya diri memang tak pernah bohong.

    [Hilal]
    Yupe, sepakat 🙂 thanks for coming mas Samsul

  4. Memang…, ada hal2 yang tak selamanya bisa dikontrol. Masalahnya tidak semua orang punya kemampuan dan pengetahuan untuk membaca body language.

    Senang sekali bisa berdiskusi dengan anda. Sungguh mencerahkan.. Tabik… 😉

    [Hilal]
    Ya betul, ini dua sisi mata uang, dari sisi diri sendiri kita bisa menggunakannya untuk membantu diri kita sendiri , baik dalam konteks positif maupun negatif(ah tentu saja sebaiknya jangan)
    Dari sisi orang lain, ya kita harus juga bisa menggunakannya dengan positif, jika ingin memelihara relationship, maka kita harus benar benar original dan genuine, agar tidak ada kepalsuan.
    Intinya bisa kita gunakan both side, senang juga berdiskusi dengan anda Mas Mahendra

  5. tapi hati-hati juga sama orang yang pandai berakting, dan pandai memainkan peran muka 🙂 tapi jarang ada yang bisa professional seperti ini, ga dismua kondisi. Visual memang ga pernah bo’ong. hehe

    [Hilal]
    Ya, sepakat pak. harus berhati hati, dan memang di sisi lain, seperti yang bapak bilang, susah, banyak hal yang tidak bisa kita kontrol

  6. wah saya langsung tertarik dengan judulnya, setelah di baca sampai habis, ternyata memang menarik, kejadian itu sering terjadi, mungkin saya pribadi juga sering seperti itu, mampu di baca oleh orang lain dengan gesture yang saya tunjukan. dan juga saya membaca orang lain dari aksi non verbal yang mereka tunjukan. ada kalanya, mungkin seseorang dengan sengaja melakukan hal itu, tidak menyeimbangkan verbal dan non verbalnya sebagai tanda bahwa ia tidak mau menyinggung perasaan orang lain dengan kata-katanya, namun dengan berbuat seperti itu ia mampu menyadarkan orang lain bahwa ada something wrong, or something happend. namun jika tidak tepat cara menyampaikan maksudnya, bisa jadi sebaliknya, orang lain menemukan ketidakseimbangan dan menganggap kita melakukan sebuah kesalahan seperti kebohongan..
    Pemikiran ini sedang saya bayangkan sekarang..bisa jadi itu terjadi pada diri saya sendiri..

    Oia, makasih udah kasih comment di beberapa tulisan saya..well, kemarin itu saya lagi eror banget banyak cabang-cabang pemikiran di sana sini, so saya coba nuangin itu sebagai posting..hehe..
    teruslah menulis.

    [Hilal]
    Wah, terimakasih atas komentarnya, semakin menambahkan komplit tulisan saya, dengan memberikan contoh kejadian penggunaan non verbal linguistics untuk tujuan tertentu, saya setuju dengan anda 🙂 thanks alot buat comment nya, a very nice comment

  7. Menemukan 7%-38%-55% Rule milik Albert Mehrabian di sini.

    Yang unik, 45% aktifitas manusia dalam berkomunikasi diwujudkan bentuknya dalam listening. Selebihnya, 30% speaking, 16% reading, dan 9% writing.

    Padahal, faktanya 55% komunikasi yang efektif dipengaruhi oleh body language, yang dilihat, dan dirasa, bukan didengar.

    [Hilal]
    Hmmm, menarik dan patut dikaji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s