Home

The ability to be in the present moment is a major component of mental wellness. ~Abraham Maslow

Ketika pulang dari kantor semalam, ada hal yang mengejutkan saya. Ketika saya sedang dikamar mandi membersihkan kaki dan tangan, tiba tiba anak perempuan saya –icha– yang berumur 6 tahun itu datang dengan membawakan sepiring nasi buat saya, “bah, ini makan malamnya”, Oh My God, so sweet. Dan si kecil dimas yang masih berumur 23 bulan itu menimpali “bah, mamam bah”. Moment yang very touching.

Dulu, saya kurang bisa menikmati waktu saya di rumah, bukan karena apa, karena ketika saya di rumah, hanya badan saya saja yang ada di sana, tapi pikiran saya tidak di sana !!, pikiran saya masih di kantor, dengan pekerjaan yang belum tuntas, dengan apa yang harus dikerjakan besok pagi, dengan pengalaman dan kejadian kejadian di hari itu. Saya ada di rumah, tapi saya tidak di sana !!.

My body is there, but i am not present !. Keberadaan saya di sana tidak membawa arti yang signifikan !. And it’s totally not good. Saya mulai berusaha untuk merubahnya, Dengan menerapkan switching pattern di otak saya, bahwa pekerjaan di kantor sedapat mungkin saya biarkan terbang terbawa angin ketika saya sudah mengendari motor saya pulang ke rumah. Saya tidak akan berpikir tentang pekerjaan lagi kecuali memang emergency. Dan sebaliknya ketika di kantor, saya juga berusaha untuk maksimal. Susah memang, tapi percaya pada saya, itu akan sangat efektif !. Ketika anda di rumah, berikan semuanya untuk yang dirumah. Ketika anda di kantor, berikan semaksimal mungkin untuk hal hal di kantor. Ketika meeting, anda harus ada di sana karena anda mau meeting, berapa banyak orang ada di tempat meeting tapi pikiran mereka ada di tempat lain ??. Jadilah mereka hanya tourist yang ada di tempat meeting, hadir tapi sama sekali tidak memberikan kontribusi !!!.

Ini berbicara tentang kualitas keberadaan kita dan efektifitas aktifitas. Saya menyadari, saya jauh lebih efektif ketika saya benar benar being fully present baik tubuh saya, pikiran saya maupun hati saya. Betapa menyebalkannya hadir di sebuah meeting yang saya tidak ingin ada di dalamnya, betapa sayangnya waktu keluarga — yang sadar tidak sadar hanyalah waktu sisa — masih kita pergunakan untuk pekerjaan kantor yang bisa kita tunda atau bisa kita delegasikan ??

Well, dulu saya terkenal sebagai orang yang suka ada di kantor hingga larut malam. Bahkan ketika dirumahpun masih membuka laptop untuk remote, sangat sibuk sampai lupa makan dan tidak sempat browsing detik.com !!, tapi seiring waktu saya belajar tentang banyak hal. Tentang arti sebuah keberadaan. Tentang sebuah keseimbangan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menghentikannya.

Saya berkesimpulan bahwa saya akan bekerja efektif dikantor hanya dan hanya jika

  • Delegate
    Saya bisa dan harus mendelegasikan pekerjaan saya kepada orang lain.Ini membuat saya harus percaya pada orang lain, dan membuat saya juga harus mengajarkan apa yang saya bisa kepada orang lain. Percaya atau tidak , memberikan orang lain apa yang anda bisa kerjakan membuat anda bisa mengerjakan pekerjaan lain, dan membuat anda tambah pintar tentu saja. Ini yang namanya empowerment. Dan tentu saja teamwork.
  • Automate
    Kalau saya tidak bisa mendelegasikan, no choice, saya harus mengautomatisasikan, ini membuat saya lebih kreatif. Apa yang tadinya manual, menjadi automate. Menjadi lebih reliable dan perform.
  • Simplify
    Kalau tidak bisa saya delegasikan dan tidak bisa saya automatisasikan, ya harus saya simplify. Lebih minimalis.
  • Say “No”
    Belajar untuk mengatakan “tidak”. Learn to say “No” is not easy. Dulu saya orang yang akan selalu senang mengatakan bahwa saya bisa !!. Meskipun itu bukan tanggung jawab saya. Pada akhirnya itu jadi bumerang. Saya menjadi over commit dan menjadi overlapping.  Belajar mengatakan tidak ketika pekerjaan kita sudah overloaded, belajar mengatakan tidak untuk hal hal yang memang diluar tanggung jawab kita, belajar mengatakan tidak untuk hal hal yang hasilnya akan lebih baik jika dilakukan orang lain, belajar untuk mengatakan tidak jika pekerjaan tersebut tidak relevan dan not worthed. Saying “No” is difficult, but effective and save you alot !!

“Choose today, and every day, to enjoy life by being fully present” — Jim Rohn —

Bekerjalah ketika anda harus bekerja, meetinglah ketika kita harus meeting, bermainlah ketika memang waktunya bermain, be there !!!

Advertisements

5 thoughts on “excellent by being present

  1. hehehe…mas hilal semenjak jadi GM memang berubah banyak. Dulu yang mencolok itu skill enginering dan skill komunikasinya yang agak sedikit narsis :). tapi sekarang berubah drastis. Skill leadershipnya melejit bagaikan roket. Salut mas, btw ulasannya hampir mirip anjuran tim ferriss dalam buku 4 hour work week. bagus banget tuh mas. kalo mo baca minjam aja ke zidni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s