Home

“The truth shall make you free, but first it shall make you angry”

Dalam acara Team Building di Puncak Resort Cianjur tanggal 22-23 November 2008, saya terpilih sebagai orang kedua yang paling suka marah !!, dari kurang lebih 60-an peserta, 18 orang melakukan vote dengan nama saya.  Top number 1 is 25 vote. Well, does it make me sad ? not really.

Inline dengan posting saya tentang kesetimbangan, maka marah tetap diperlukan, daripada pujian dan senyuman yang melenakan serta memabukkan, saya lebih suka marah yang membangunkan, marah yang konstruktif, marah yang menyadarkan, marah yang dibangun diatas kesadaran dan keinginan untuk memperbaiki dan menyadarkan seseorang atas fakta fakta yang sering disepelekan.

Marah saya bukan marah yang berketerusan, marah yang menjadi habit. Toh saya juga masuk dalam nominasi orang yang paling supel dalam acara yang sama. Di satu sisi , selain sedih, honestly saya senang, kok bisa ? dari kecil, sampai saya menikah, saya masih perceive diri saya sebagai orang yang sabar, yang tidak bisa marah, yang selalu mengambil sisi positif dari semua kejadian, dan selalu mencoba memberikan penjelasan yang cukup lunak terhadap orang lain.

Sampai akhirnya datang istri saya, ketegasan dan karakternya yang kuat serta dominan menyadarkan dan menghentakkan saya, bahwa keras, tegas dan marah yang membangun telah membuat saya tumbuh, dari orang yang rileks, santai menjadi orang yang terus berpacu dan growing. Istri saya secara tidak sadar mengajarkan saya bahwa lemah lembut terus menerus dan tidak proporsional, tanpa ketegasan adalah sebuah kesalahan, karena hanya akan melenakan.

Sampai akhirnya datang juga atasan saya yang baru, seorang vice president, yang karakternya juga kuat, mendominasi, demanding dan kadangkala outputnya adalah marah. Terlepas dari efek negatif, ada efek positif dimana kualitas pekerjaan mulai menjadi prioritas, improvement pada business process mulai terjadi, sense of awareness dan ownership terhadap sebuah problem mulai tumbuh, serta simplifikasi proses yang membuat overall activities menjadi lebih efisien. Problem yang terjadi, serta conflict yang ada membuat saya bisa memanage krisis dan menjadikannya sebuah opportunity.

Jadi marah, jika dilakukan dengan proporsional dan tepat pada sasaran , tentu akan menumbuhkan mereka yang sedang layu, menyadarkan mereka yang sedang terlena , dan membangunkan mereka yang sedang tidur.

Marah seharusnya bisa kita lakukan seperti ayah memarahi anaknya, marah dari sisi fisik namun dari sisi mental sebenarnya adalah kasih sayang, seperti kita membuka baut yang keras, tentu butuh tenaga yang lebih kuat, seperti kita memacu mesin mobil kita ketika kita melihat memang kita harus lebih keras berpacu.

Bukan marah yang menghancurkan, bukan marah yang merusakkan.
Lebih baik kita mengeluarkan marah daripada kita memendamnya menjadi endapan magma yang bisa meledak ketika sudah tidak bisa ditahan lagi. Dalam konteks lainnya, ketika menghadapi sebuah turbulensi, tribulasi, threat, marah jauh lebih baik dari pada takut. Marah akan membuat kita berbuat dan melawan. Takut akan membuat kita lari. Marah akan melahirkan spirit untuk melawan (fight). Sementara Takut akan membuat kita melarikan diri dari kenyataan dan masalah (flight) …..

Jadi, saya sedih karena ternyata saya punya title sebagai orang yang suka marah, tapi saya senang, karena saya sadar bahwa kemarahan saya adalah kemarahan yang diperlukan untuk membangunkan dan tidak merusakkan. Yang menumbuhkan dan tidak menghancurkan.

Kemarahan bisa membuat orang lebih kritis, dan — sadarkah anda ? — ketika orang marah, orang hanya akan mempermasalahkan hal hal penting, bukan yang tidak penting. Rasa marah yang terkelola dengan baik biasanya akan membuat orang mendasarkan pilihan dan keputusan pada apa yang benar benar penting. Tapi jika marah tidak terkelola dengan tidak baik, dan membabi buta, alih alih mengambil keputusan yang benar, yang ada malah ngawur.

“Anyone can become angry – that is easy, but to be angry with the right person at the right time, and for the right purpose and in the right way – that is not within everyone’s power and that is not easy.” — Aristoteles

Marah ? tidak mudah ternyata …..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s