Home

“Executed as terrorist but burried as hero”

Dieksekusi sebagai teroris, tapi dimakamkan sebagai pahlawan. Sebagian orang menganggap kematiannya sebagai ganjaran memalukan atas seorang kehidupan seorang anak manusia, tapi sebagian lainnya menganggap kematiannya sebagai Syuhada — orang yang meninggal karena menjadi martir dalam Islam–.

Begitulah yang saya lihat dalam cerita eksekusi Imam Samudra, Mukhlas dan Amrozi. Orangnya sama, kematiannya sama, kisahnya sama, tapi orang menyikapinya secara berbeda. Inilah yang menjelaskan bahwa sebenarnya orang itu berbuat dan bertindak berdasarkan apa yang ada di kepala mereka, berdasarkan persepsi yang ada di benak mereka, bukan berdasarkan kenyataan/fakta yang sebenarnya. Orang mengambil keputusan dan kesimpulan berdasarkan “kenyataan” yang ada di kepala mereka masing masing.

Kita semua begitu, banyak yang diantara kita yang tidak sepenuhnya menyadari bahwa apa yang ada diotak kita sebenarnya adalah persepsi kita, bukan kenyataan yang sebenarnya. Itu adalah “kenyataan” yang kita buat sendiri. Persepsi kita sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya :

  • Genetika
  • Environtment-lingkungan-budaya
  • Pendidikan
  • Ideologi-keyakinan

Faktor faktor diatas yang sebenarnya turut berkontribusi dalam merangkai semua parameter dan informasi yang kita miliki menjadi sebuah “kenyataan” dan  kesimpulan.

Faktor genetika misalnya menjelaskan kenapa orang kembar identik, yang terpisah jauh, ternyata memiliki nama hewan peliharaan yang sama, hewannya juga sama, bahkan menyukai hobi yang sama, dan uniknya beberapa diantaranya memiliki pasangan dengan nama yang sama. Apa yang mereka anggap sebagai sepenuhnya kreativitas dan kemandirian pilihan ternyata tidak sepenuhnya benar. Ada faktor genetika yang mempengaruhi pilihan dan keputusan mereka.

Faktor lingkungan tentu saja sudah kita lihat banyak contohnya, orang orang madura yang sangat terbuka dan “kasar” tentu berperangai berbeda dengan orang orang solo yang terlihat lemah gemulai dan lembut. Orang orang padang yang suka berdagang berbeda dengan orang orang betawi yang suka jadi tuan tanah. Pilihan pilihan mereka sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan dimana mereka lahir. Orang Aceh tentu lahir dan besar dengan cerita tentang Hasan di Tiro, sementara di Irak lahir dengan cerita Saddam Husain, dan di India dengan kebesaran Mahatma Gandhi.

Faktor Pendidikan membuat pilihan orang yang tidak lulus sekolah, sangat berbeda dengan mereka yang lulus dari perguruan tinggi atau bahkan mengeyam pendidikan di luar negri. Bahkan yang sama sama bersekolah pun mungkin akan berbeda hasilnya tergantung di mana mereka bersekolah.

Faktor Ideologi tidak perlu kita bicarakan lagi, seorang Muslim memiliki pilihan yang membuatnya berbeda dengan Agnostic , Catholic, Christ dan bahkan Jews sekalipun !! (Jews sebenarnya sangat dekat dengan Muslim dari sisi ajaran).

Keempat hal di atas membuat pilihan pilihan kita berbeda, membuat persepsi dan kesimpulan kita berbeda satu sama lain, yang mempengaruhi sekuat apa paramater parameter itu kita olah menjadi fakta fakta dan menghasilkan kesimpulan.

Hal ini ibarat pedang bermata dua, kita bisa melihat apa yang sebenarnya tidak ada, dan tidak melihat apa yang sebenarnya ada. Dalam beberapa hal bisa positif, dan dalam hal yang lain bisa menjadi sebaliknya.

Positifnya, kita bisa membuat orang lain berbuat apa yang kita inginkan, jika kita bisa merubah persepsi mereka.

Negatifnya, orang bisa memandang kita dan menganggap kita sebagai sesuatu yang sebenarnya tidak benar, karena keterbatasan informasi, dan juga 4 faktor yang saya sebut di atas.

Tapi menariknya, justru karena inilah dunia kita ini menjadi dinamis. Banyak konflik, dan masalah dan oleh karenanya dunia ini terus menghasilkan orang orang kreatif, karena harus menyelesaikan masalah ini dalam kehidupan mereka.

Sebelum saya tutup blog saya ini, ingat ingat pesan saya ini ..

“Orang bisa saja percaya terhadap apa yang kita katakan, tapi sangat sulit bagi seseorang untuk tidak membenarkan kesimpulan yang ada di kepalanya”

Buat anda yang sering terpengaruh oleh orang lain, sudah saatnya untuk berhenti atau tidak terlalu ambil pusing, karena tiap orang punya persepsi yang berbeda, dan sering tidak sesuai dengan fakta, jadi buat apa pusing dan stress karena anggapan orang terhadap diri anda ?.

Sebaliknya, buat anda yang sangat cuek dengan orang lain, sudah saatnya untuk berhenti dan mempertimbangkan persepsi orang lain terhadap anda, jika anda ingin sukses dan membina relasi dengan orang lain, terutama jika anda menjual sesuatu dan anda ingin orang membeli apa yang anda jual, anda harus belajar untuk mengetahui persepsi mereka terhadap barang yang anda jual, dan jika tidak sesuai , anda harus bekerja keras merubah persepsi itu !!

Advertisements

One thought on “Persepsi

  1. Menciptakan persepsi dalam benak orang lain terhadap kita kadang perlu dilakukan, supaya kesan memorinya tentang kita bisa diciptakan secara semu. bukan dalam arti yang buruk, tapi persepsilah yang membuat kita survive (mungkin saja). oiya, saya ingat beberapa minggu yang lalu saya ada nonton film judulnya FELON disini banyak dikisahkan tentang persepsi.

    [Hilal]
    Ya betul pak, itu sangat perlu, namanya Pencitraan 🙂 branding, we have to sell our self (dalam konteks yang positif), salah satunya dengan cara mengcreate Image atau Branding yang diinginkan, that’s important mas 🙂 seperti produk produk melakukan iklan, itu kan branding development

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s