Home

Geraham saya sakit, menahan supaya tangis saya tidak bersuara, dan air mata itu sangat deras mengalir. Itu terjadi ketika saya menonton film ini, Laskar Pelangi ! Hal serupa terjadi ketika saya membaca novel nya dulu ketika baru terbit. Terutama Sang Pemimpi. Melihat si Arai membuat saya bisa tertawa sekaligus menangis.

Well, let’s start this post …
Biasanya saya akan terbawa dan sangat antusias dengan kisah kisah heroik, kisah ketika seseorang melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia impikan, dan …… dia bisa mengorbankan impiannya untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mulia dan lebih berharga, sebuah pengorbanan !!!

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi

Itulah yang menjelaskan kenapa saya sangat suka dengan The Last Samurai, Brave Heart, Tear of The Sun, kisah Muhammad saw, Ibrahim As dan anaknya Ismail As. Ya .. semuanya bercerita tentang sebuah heroisme dan passionate. Cerita tentang orang orang yang sangat gagah berani mengejar impiannya. Dan juga cerita tentang sebuah pengorbanan, mengorbankan diri sendiri untuk sesuatu yang jauh lebih mulia.

Dalam novelnya, saya sangat mengagumi ayah Ikal, Lintang dan tentu saja Ikalnya sendiri. Namun dalam film ini, ada satu tokoh tambahan yang membuat saya menangis ! AYAH LINTANG, luar biasa, saya seperti terhenyak dan diberikan contoh tentang bagaimana mestinya menjadi seorang ayah. Dia tidak membiarkan anak laki lakinya membantunya. Dia memiliki cita cita yang besar untuk anaknya. Dan dia harus meninggal untuk anak anaknya. Dan episode kesedihan itu berlanjut. Lintang yang sangat cerdas, yang sangat outstanding, yang seharusnya bisa terus menorehkan kisah kisah kemenangan gemilang, harus sampai pada sebuah titik di mana ia harus mengorbankan segala ksempatan yang dia punya, masa depan yang sangat mungkin berbeda dengan pilihannya saat itu, berhenti bersekolah, karena ia harus menggantikan ayahnya, menjadi kepala keluarga untuk adik adiknya. Luar Biasa !!, dunia memang tidak adil, tapi dunia pula yang sering mengisahkan cerita cerita manusia manusia luar biasa ini.

Lintang

Lintang

Muhammad SAW, betapa jalan hidupnya begitu terjal untuk menjalani tugas kerasulan yang diembannya, heroisme perjuangan bercampur dengan pengorbanan, begitu juga Ibrahim As, cerita untuk penyembelihan anaknya untuk membuktikan kesetiaan ilahiahnya benar benar diluar nalar dan harus menembus batas batas kemanusian. Menyembelih anaknya yang lama dinanti nanti kelahirannya !, Luar biasa.

Entah kenapa dengan diri saya, saya selalu terhanyut oleh cerita cerita seperti ini. Cerita tentang patriotisme, heroisme dan pengorbanan. Pengorbanan yang menghidupkan, patriotisme yang menyuburkan dan heroisme yang membangkitkan. Inilah yang membuat para pahlawan dan ikon kehidupan itu melegenda sepanjang masa!

Seperti kata Nieztsche dalam The Zarathustra, on War and Warrior :

to you, i do not recommend work but struggle
to you, i do not recommend peace but victory

let your work be a struggle
let your piece be your victory

Karena perjuangan akan menghidupkan, karena kemenangan adalah kebanggaan.
Para pejuang itu bebas untuk menentukan bagaimana dia harus mati ketika tidak ada jalan untuk hidup penuh kemuliaan. To die proudly when it is no longer possible to live proudly

Buat Ayah Lintang .. anda mengajarkan bagaimana seorang ayah melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang ayah.  Sebagaimana Ibrahim terhadap Ismail.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s