Home

Apa pengalamanmu :

hai hai dan hai maksud ku untuk menyapa kalian
aku menyapa kalian untuk mengajak berbicara
apa pengalaman mu

Kenapa bumi berputar :

semua rumah yang kita tempati itu
adalah di bumi .bumi itu  bulat tapi
kita tidak terasa dunia kita ini bulat
tapi kalau kita berputar semua
akan berputar na kenapa seperti itu?

Kenapa kulitku hitam :
Mama, kok tangan mama putih? Tangan icha kok hitam?
Mama, icha bisa nggak ya jadi princess?
Babah, Allah itu rumahnya dimana sih?, Kok kita nggak bisa lihat Allah?
Mamuh… mamuh cinta nggak sama Bubih ?

Semua pertanyaan diatas, adalah pertanyaan anak pertama saya, Hilya Khalisha Mumtazah. 6 Tahun 2 bulan.

============================================

“Hasrat untuk bertanya dan mengetahui adalah wajar untuk orang  orang yang benar” — Leonardo Da Vinci

Anak anak kecil, hampir semuanya sama, selalu penuh dengan pertanyaan. Sampai sampai ada sebuah penyakit yang dilekatkan khusus untuk anak yang terlalu sering bertanya, sehingga dianggap hyperaktif. Penyakitnya disebut “Attention Deficit Order” atau ADD (Gangguan Kurang Perhatian), karena anak dianggap terlalu sering bertanya untuk mencari perhatian saja. Ironis kadang kala. Kita sebagai orang tua, terkadang tanpa sadar juga dibuat kewalahan oleh pertanyaan dan rasa haus akan jawaban oleh anak anak kita. Dan kita jadi jutek dan malas ketika menjawabnya. Lambat laun, anak anak jadi malas bertanya juga. Karena response kita yang tidak menciptakan suasana yang kondusif.

Tanpa sadar dunia pendidikan juga begitu, mereka terlalu fokus pada “jawaban yang benar” daripada apakah seorang anak “bisa bertanya dengan tepat” dan tahu “kapan harus bertanya” dan “apa yang sebaiknya ditanyakan”. Jadilah anak anak itu hanya anak anak ujian akhir. Mereka hanya belajar agar nilai ujian nya perfect. Setelah ujian akhir ? coba tanyakan sebulan kemudian , apakah mereka bisa menjawab ketika mereka melakukan ujian ? seem to be imposible. Ujian akhir benar benar menjadi akhir. Karena memang mereka didesign untuk “menjawab dengan benar”, bukan “teruslah bertanya untuk mendapatkan segalanya”.

Orang orang dahulu kala harus survive dengan bertanya “di mana sumber mata air ?”, kemudian mereka akan bertanya “bagaimana mengalirkan air itu ke rumah rumah kita ?”, “bagaimana agar kita bisa aman dari gangguan binatang buas ?” , semua solusi dan inovasi berasal dari pertanyaan.

“How if … ” , “What if .. “, adalah perangsang perangsang pengetahuan baru.
Apa masalahnya ? , Kapan terjadinya, Siapa yang terlibat, Bagaimana bisa terjadi, Di mana terjadinya, Mengapa harus terjadi , Apa relevansinya ? …. ”

Banyak pertanyaan yang akan menggiring kita pada jawaban jawaban yang tidak kita perkirakan sebelumnya, menimbulkan ide ide baru, menciptakan kreasi kreasi baru ….

Dunia ini tumbuh berawal dari sebuah pertanyaan …. Manusia berkembang dari banyak couriousity ….

Babah, kalau balon terbang ke atas itu dia menuju surga ? meledak ? atau kembali ke tanah ?
Babah, kalau bumi itu bulat, kenapa rumah rumah itu tidak miring ?

Dan banyak lagi pertanyaan dari anak saya, yang saya berharap akan merangsang terus imajinasinya …

Bertanyalah, pertanyakanlah semuanya …….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s