Home

13 Oktober 2008, jam 9.36 pagi, telepon berdering, membawa berita duka, salah seorang kawan saya hari ini diberikan ujian, anaknya dipanggil oleh Tuhan. 6 tahun, 3 bulan, 10 hari usianya . Usia yang semestinya hanya menyisakan keindahan, kelucuan dan kebahagiaan saja.

Saya membantu memegang jenasahnya dan menurunkannya ke liang lahat, dan ayahnya langsung yang menguburkannya.

Ketabahan seorang ayah, saya lihat hari ini. Sebelum jenasah dikuburkan, beliau berkata, bahwa usia 6 tahun adalah usia dimana anaknya masih belum baligh, belum mengenal istilah dosa, halal dan haram. Argonya belum jalan. Sehingga tidak perlu dimintakan maaf, kecuali maaf dari orang tuanya.

Bahwa kematian sang anak adalah nasihat yang sangat luar biasa, nasihat yang tidak ada lagi nasihat setelahnya.

Saya jadi teringat keluarga saya, betapa banyak waktu yang saya sia siakan, waktu yang seharusnya saya gunakan untuk anak anak saya, untuk istri saya, betapa masih banyak waktu yang belum maksimal saya gunakan untuk kebahagiaan mereka. Malah mungkin ada banyak waktu dimana saya mengecewakan mereka.

Saya masih sering kalah oleh kelelahan saya, oleh rasa kantuk saya, egoisme keinginan saya, sehingga saya berhenti bermain dan tidak memberikan mereka waktu saya.

Padahal, seharusnya saya bisa lebih berbagi. Jam 6 pagi saya ke kantor, dan sering sampai rumah jam 7 malam. Jam 9 kadang sudah tidur. Jadi hanya 2 jam untuk keluarga. 13 Jam di kantor, dan 9 jam untuk diri saya sendiri karena saya tidur. Betapa egois dan tidak proporsionalnya.

Ketika menurunkan jenasah siang tadi, saya tahu, sang anak beristirahat selama lamanya.  Istirahat dari semua permainannya. Dan saya ? kenapa saya harus mengorbankan waktu keluarga saya karena saya mengantuk, lelah dan ingin beristirahat ? bukankah kelak saya akan punya waktu dengan cara beristirahat di liang lahat ? Seharusnya saya tahu, seharusnya saya lebih meluangkan waktu untuk keluarga saya, karena saya masih punya waktu untuk beristirahat nanti, di sana, di liang lahat.

Jika saya memberikan semuanya untuk keluarga saya, mustinya saya bisa beristirahat dengan baik di liang lahat. Karena saya bisa tersenyum dan bercerita pada malaikat maut, bahwa saya sudah melakukan tugas saya dengan baik, tugas yang semestinya dan seharusnya saya lakukan. Keluarga !

Tuhan, beri saya kesempatan ….

Advertisements

One thought on “Waktuku beristirahat

  1. posting yang bagus Mas Hilal, sangat menyentuh. Betapa egoisnya saya hanya untuk berbuat kepada diri sendiri, hanya memberi nafkah materil yang berkecukupan tapi kekurangan memberi nafkah materil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s