Home

Hilal Achmad - Family

Hilal Achmad – Tyasworo Prasetyowati
Hilya Khalisha Mumtazah
Dimas Paramadhiyaksa Achmad

Kami sekeluarga mengucapkan “happy ied 1429 H, taqobballaahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin, for things we did wrong, for jokes you can’t take, and for advice you can’t accept, aruming pangruwating jiwa, winahya ing lekasing ati suci. Sumusul lumunturing nugraha jatining sedya ”

Kami berlebaran tanggal 1 Oktober 2008, biasanya kami mengikuti Muhammadiyah, bagaimana dengan anda ? mungkin anda berlebaran tanggal 29, tanggal 30 , ada yang mengikuti jamaah masing masing, ada yang mengikuti pemerintah, ada yang mengikuti Saudi Arabia, ru’yat NU dan lain lain, masalah klasik yang selalu kita hadapi.

Salah seorang bertanya kepada saya, kenapa tidak mengikuti Saudi Arabia ? bukankah mereka lebih dahulu dari kita dalam konteks waktu perjalanan kalender hijriah ? dan bukankah mereka menggunakan ru’yat ? artinya kalau mereka sudah melihat hilal, harusnya di Indonesia juga sudah melihat hilal ?

Well, paling tidak ada 2 mekanisme yang harus kita lihat yaitu :

  1. Mekanisme penentuan kalender hijriah yang dipakai apakah menggunakan ru’yatul hilal, wujudul hilal, atau imkanur ru’yat MABIMS

    Rukyatul Hilal
    Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:
    “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

    Wujudul Hilal
    Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 PERSIS sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Al-Qur’an pada QS. Yunus: 5, QS. Al Isra’: 12, QS. Al An-am: 96, dan QS. Ar Rahman: 5, serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 39-40.

    Imkanur Rukyat MABIMS
    Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

    Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:
    * Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
    * Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

    Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip Imkanur-Rukyat digunakan antara lain oleh Persis

    Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.
    (taken from wikipedia)

  2. Mekanisme horizon yang dipakai , apakah menggunakan hukum global atau hukum lokal
    Jika menganut hukum global, maka jika suatu wilayah telah menyatakan melihat bulan, maka semua wilayah harus mengikutinya, dan sebaliknya, hukum lokal menganut prinsip bahwa setiap wilayah hukum memiliki peraturan sendiri

blog saya dan posting ini tidak untuk membahas prinsip mana yang benar dan harus dipakai, karena sudah banyak artikel, tulisan, publisitas, buku, seminar atau apapun yang membahas masalah ini, saya hanya ingin sharing beberapa informasi menarik seputar hal ini.

  1. Nabi Muhammad SAW berpuasa semenjak 2H, artinya nabi berpuasa sebanyak 9 kali, dari 9 kali berpuasa, 8 kali diantaranya 29 hari, dan hanya 1 kali sebanyak 30 hari.
  2. Jika dihitung dengan mekanisme hisab menurut salah satu tulisan (http://media.isnet.org/isnet/Djamal/rmd-nabi.html) maka seharusnya nabi berpuasa 29 hari sebanyak 6 kali, dan hanya 3 kali sebanyak 30 hari
    Tahun Hijriyah Awal Ramadan Idul Fitri Hari Puasa
    2 Ahad, 26 Feb. 624 Senin, 26 Mar. 624 29
    3 Kamis, 14 Feb. 625 Jum’at, 15 Mar. 625 29
    4 Selasa, 4 Feb. 626 Rabu, 5 Mar. 626 29
    5 Ahad, 25 Jan. 627 Senin, 23 Feb. 627 29
    6 Kamis, 14 Jan. 628 Sabtu, 13 Feb. 628 30
    7 Senin, 2 Jan. 629 Rabu, 1 Feb. 629 30
    8 Jum’at, 22 Des. 629 Ahad, 21 Jan. 630 30
    9 Rabu, 12 Des. 630 Kamis, 10 Jan. 631 29
    10 Ahad, 1 Des. 631 Senin, 30 Des. 631 29
  3. Saudi Arabia lebih banyak berpuasa 29 hari, sementara indonesia lebih banyak berpuasa 30 hari, padahal horizon wilayah pandang di Indonesia lebih lebar !!, bahkan Indonesia punya 3 horizon waktu yaitu WIB, WITA dan WIT. Kenapa justru saudi yang lebih sering melihat Hilal ?
  4. Tidak ada nash yang secara jelas mengatakan bahwa ru’yat harus dilakukan dengan mata telanjang, jadi seharusnya melihat hilal harus lebih mudah dengan bantuan technology, dan tidak perlu ada halangan awan, suhu, ketinggian dan sebagainya. Menggunakan citra satelit, radar, inframerah, teleskop dan lain sebagainya akan sangat memudahkan.
  5. Untuk menentukan kapan melakukan ru’yat diperlukan informasi tentang waktu ijtimak, yaitu waktu dimana matahari, bulan dan bumi dalam posisi sejajar, dan sangat diperlukan hisab untuk menentukan waktu ijtimak
  6. Validitas dan akurasi ilmu falak/hisab saat ini sudah sangat precise dan akurat, terbukti bahwa kita sudah bisa melakukan prediksi dengan akurat kapan gerhana, dimana bisa dilihat dan untuk berapa lama
  7. Ru’yat sangat sudah dilakukan dan perlu skilled people, banyak orang yang salah dalam melihat object yang dikira bulan, padahal bisa jadi itu benda langit lainnya, karena kadang kala iluminasi bulan tidak lebih terang dari sinar disekelilingnya. Saudi pernah melakukan kesalahan puluhan kali dalam hal ru’yat hilal, salah satunya misalnya penentuan 1 ramadhan 1403 H, Yang jatuh pada hari Sabtu 11 Juni 1983 dengan berdasarkan kesaksian rukyat hilal pada hari Jum’at malam Sabtu 10 Juni 1983.Pada malam Sabtu matahari terbenam pada pukul 19:05 WSA dan bulan terbenam pada pukul 18:22 WSA jadi hilal terbenam 43 menit sebelum matahari terbenam. Tinggi hilal pada saat maghrib -8° 53′ alias jauh dibawah ufuq.Kesalahan rukyat Saudi itu terbukti dengan terjadinya gerhana matahari total di Indonesia esok harinya pada pukul 09:55-13:17 WIB. Kita semua tahu bahwa gerhana adalah proses ijtimak bulan, matahari dan bumi. Gerhana matahari terjadi karena sinar matahari tertutup oleh bulan pada saat ijtimak/konjungsi. Lalu hilal yang terlihat di Saudi pada malam Sabtu itu hilal yang mana. Sementara ijtimak baru terjadi esok harinya dengan bukti terjadinya gerhana matahari di wilayah Indonesia.
    http://my.opera.com/Kasmui/blog/2007/12/22/idul-adha-1428-h-dan-problematikanya-kontroversi-dzul-hijjah-1428-h-saudi-ara
  8. Jika melihat bumi bulat, dan kita memaksa untuk menggunakan konsep hukum global dengan ru’yat berpatokan Saudi Arabia, maka akan selalu ada masyarakat yang berpuasa sebanyak 28 hari misalnya di hawai.
  9. Hisab ternyata memiliki banyak model, dari yang paling primitif sampai yang diklaim paling akurat , dan hasilnya sedikit berbeda satu sama lainnya yaitu :
    ■ Hisab Urfi (`urf = kebiasaan atau tradisi)
    Adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Pada sistem hisab ini perhitungan bulan komariyah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga dalam setahun komariyah umur dibuat bervariasi 29 dan 30 hari. Bulan bernomor ganjil yaitu mulai Muharram berjumlah 30 hari dan bulan bernomor genap yaitu mulai Shafar berumur 29 hari. Tetapi khusus bulan Zulhijjah (bulan 12) pada tahun kabisat komariyah berumur 30 hari.  Tahun kabisat komariyah memiliki siklus 30 tahun dimana didalamnya terdapat 11 tahun yang disebut tahun kabisat (panjang) memiliki 355 hari, dan 19 tahun yang disebut basithah (pendek) memiliki 354 hari. Tahun kabisat ini terdapat pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan ke 29 dari keseluruhan siklus kabisat selama 30 tahun. Dengan demikian kalau dirata-rata maka periode umur bulan (bulan sinodis / lunasi) menurut Hisab Urfi adalah (11 x 355 hari) + (19 x 354 hari) : (12 x 30 tahun) = 29 hari 12 jam 44 menit ( menurut hitungan astronomis: 29 hari 12 jam 44 menit 2,88 detik ). Walau terlihat sudah cukup teliti namun yang jadi masalah adalah aturan 29 dan 30 serta aturan kabisat tidak menujukkan posisi bulan yang sebenarnya dan hanya pendekatan. Oleh sebab itulah maka hisab ini tidak bisa dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah.

    ■ Hisab Taqribi ( taqrobu = pendekatan, aproksimasi )
    Adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang teliti. Sistem hisab ini merupakan warisan para ilmuwan falak Islam masa lalu dan hingga sekarang masih menjadi acuan hisab di banyak pesantren di Indonesia. hasil hisab taqribi akan sangat mudah dikenali saat penentuan ijtimak dan tinggi hilal menjelang 1 Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar terhadap hitungan astronomis modern. Beberapa kitab falak yang berkembang di Indonesia yang masuk dalam kategori Hisab Taqribi misalnya; Sullam al Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy, Fat al Rauf al Manan, Al Qawaid al Falakiyah dsb.

    ■ Hisab Haqiqi ( haqiqah = realitas atau yang sebenarnya )
    Menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik menggunakan rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Sedikit kelemahan dari sistem hisab ini adalah penggunaan kalkulator yang mengakibatkan hasil hisab kurang sempurna atau teliti karena banyak bilangan yang terpotong akibat digit kalkulator yang terbatas. Beberapa sistem hisab haqiqi yang berkembang di Indonesia diantaranya: Hisab Hakiki, Tadzkirah al Ikhwan, Badi’ah al Mitsal dan  Menara Kudus, Al Manahij al Hamidiyah,  Al Khushah al Wafiyah,  dsb.

    ■ Hisab Haqiqi Tahqiqi ( tahqiq = pasti )
    Sebenarnya merupakan pengembangan dari sistem hisab haqiqi yang diklaim oleh penyusunnya memiliki tingkat akurasi yang sangat-sangat tinggi sehingga mencapai derajat “pasti”. Klaim seperti ini sebenarnya tidak berdasar karena tingkat “pasti” itu tentunya harus bisa dibuktikan secara ilmiah menggunakan kaidah-kaidah ilmiah juga. Namun sejauh mana hasil hisab tersebut telah dapat dibuktikan secara ilmiah sehingga mendapat julukan “pasti” ini yang menjadi pertanyaan. Sedangkan perhitungan astronomis modern saja hingga kini masih menggunakan angka ralat (delta T) dalam setiap rumusnya.  Namun demikian hal ini merupakan kemajuan bagi perkembangan sistem hisab di Indonesia. Sebab sistem hisab ini ternyata sudah melakukan perhitungan menggunakan komputer serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk software/program komputer yang siap pakai.  Beberapa diantara sistem hisab tersebut misalnya : Al Falakiyah, Nurul Anwar,

    ■ Hisab Kontemporer / Modern
    Sistem hisab ini yang menggunakan alat bantu komputer yang canggih menggunakan rumus-rumus yang dikenal dengan istilah algoritma. Beberapa diantaranya terkenal terkenal karena memiliki tingkat keterlitian yang tinggi sehingga dikelompokkan dalam High Accuracy Algorithm diantara :  Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse,  dsb.   dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sangat akurat seperti Jean Meeus, New Comb, EW Brown, Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info, Starrynight dan banyak software-software falak yang lain.

    Para pakar falak dan astronomi  selalu berusaha menyempurnakan rumus-rumus untuk menghitung posisi benda-benda langit hingga pada tingkat ketelitian yang ‘pasti /qat’i ”. Hal ini tentunya hanya bisa dibuktikan dan diuji saat terjadinya peristiwa-peristiwa astronomis seperti terbit matahari, terbenam matahari, terbit bulan, terbenam bulan, gerhana matahari, gerhana bulan, kenampakan planet dan komet, posisi bintang dan peristiwa astronomis yang lain.

    Menanggapi pluralitas metode hisab yang berkembang di Indonesia, pemerintah melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) menampung semua hasil sistem hisab, dikumpulkan dan dilakukan perbandingan antara masing-masing sistem hisab tersebut. Sebagai contoh hisab awal bulan seperti di bawah ini.

    REKAP HASIL PERHITUNGAN (HISAB) IJTIMA’ DAN TINGGI HILAL AWAL RAMADHAN 2006 M/ 1427 H MENURUT BERBAGAI MACAM SISTEM

    B U L A N
    NO.
    SISTEM HISAB

    KONJUNGSI / IJTTIMAK

    TINGGI

    H A R I

    TGL.

    J A M

    HILAL
    Ramadhan

    1

    Sullam al Nayyirain

    Jum’at

    22 Sep 2006

    17:28

    0º 16′

    1427 H.

    2

    Fath al Rauf al Manan

    Jum’at

    22 Sep 2006

    17:54

    0º 03′

    3

    Al Qawa’id al Falakiyah

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:11

    – 0º 44′

    4

    Hisab Hakiki

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:46

    -1º 20′

    5

    Badi’ah al Mitsal

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:38:46

    -1º 14′ 17″

    6

    Al Khulashah al Wafiyah

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:43

    -1º 39

    7

    Al Manahij al Hamidiyah

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:43

    -1º 18

    8

    Nurul Anwar

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:38

    -1º 35

    9

    Menara Kudus

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:45:47

    -1º 37′ 55″

    10

    New Comb

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:39:46

    -1º 22′ 04″

    11

    Jeen Meeus

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:41:17

    -0º 23′ 18″

    12

    E.W. Brouwn

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:44:59

    -1º 47′ 47″

    13

    Almanak Nautika

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:47

    -1º 32′ 22″

    14

    Ephemeris Hisab Rukyat

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:45:30

    -1º 22′ 55″

    15

    Al Falakiyah

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:46:08

    -1º 20′ 41″

    16

    Mawaqit

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:45:19

    -1º 13′ 48″

    17

    Ascript

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:46

    -2º 09′

    18

    Astro Info

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:46

    -1º 26′

    19

    Starry Night Pro 5

    Jum’at

    22 Sep 2006

    18:46

    -1º 22


Hisab dan ru’yat sebenarnya bisa diderivasi dari Ilmu astronomi yang sudah sedemikian majunya, dan dalam beberapa literatur ilmu astronomi disebut sebagai “ratu science”, jangan lupa ummat islam telah banyak berkontribusi dalam ilmu astronomi, jadi saya pikir, cukup aneh kalau kita tidak habis habisnya memperdebatkan masalah ini, padahal ilmu terus berkembang dan para pendahulu kita telah bekerja dan menyumbangkan banyak literatur dan penemuan, misalnya :

  1. Banyak sekali nama nama bintang yang berasal dari bahasa arab seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Aldebaran, Algol, Altair, Betelgeus.
  2. Astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam `ratu sains’ itu yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth, almucantar, almanac, denab, zenit, nadir, dan vega. Kumpulan tulisan dari astronomi Islam hingga kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapaii 10 ribu manuskrip.
  3. Nasiruddin at-Tusi berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Selain itu, ahli matematika dan astronomi Al-Khawarizmi, banyak membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.
  4. Al-Batanni banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik
  5. Al-Battani mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat terlihatnya bulan baru. Tak hanya itu, ia juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam
  6. Buku fenomenal karya Al-Battani diterjemahkan Barat. Buku ‘De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum’ itu kini masih disimpan di Vatikan. Tokoh-tokoh astronomi Eropa seperti Copernicus, Regiomantanus, Kepler dan Peubach tak mungkin mencapai sukses tanpa jasa Al-Batani. Copernicus dalam bukunya ‘De Revoltionibus Orbium Clestium’ mengaku berutang budi pada Al-Battani.
  7. Al Haitham dalam Mizan al Hikmah mengupas kerapatan atmofser. Ia mengembangkan teori mengenai hubungan antara kerapatan atmofser dan ketinggiannya. Hasil penelitiannya menyimpulkan ketinggian atmosfir akan homogen di ketinggian lima puluh mil.
  8. Teori yang dikemukakan Ibn Al-Syatir tentang bumi mengelilingi matahari telah menginspirasi Copernicus. Akibatnya, Copernicus dimusuhi gereja dan dianggap pengikut setan. Demikian juga Galileo, yang merupakan pengikut Copernicus, secara resmi dikucilkan oleh Gereja Katolik dan dipaksa untuk bertobat, namun dia menolak.

Ilmuwan Islam begitu banyak memberi kontribusi bagi pengembangan dunia astronomi. Buah pikir dan hasil kerja keras para sarjana Islam di era tamadun itu diadopsi serta dikagumi para saintis Barat. Inilah beberapa ahli astronomi Islam dan kontribusi yang telah disumbangkannya bagi pengembangan `ratu sains’ itu.

Al-Battani (858-929).
Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah al-Zij al-Sabi. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad, selepas Al-Battani meninggal dunia. Ia berhasil menentukan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, dan mengoreksi hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Al-Battani juga mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Ia memiliki peran yang utama dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang kemudian di Eropa.

Al-Sufi (903-986 M)
Orang Barat menyebutnya Azophi. Nama lengkapnya adalah Abdur Rahman as-Sufi. Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi terapan. Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan matahari. Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Azhopi menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga ada menulis mengenai astrolabe (perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit pada bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.

Al-Biruni (973-1050 M)
Ahli astronomi yang satu ini, turut memberi sumbangan dalam bidang astrologi pada zaman Renaissance. Ia telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu, Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.

Ibnu Yunus (1009 M)
Sebagai bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya diabadikan pada sebuah kawah di permukaan bulan. Salah satu kawah di permukaan bulan ada yang dinamakan Ibn Yunus. Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003 M untuk memperhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang besar, hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan mengenai kedudukan matahari sepanjang tahun.

Al-Farghani
Nama lengkapnya Abu’l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Ia merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Beliau adalah merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi.

Al-Zarqali (1029-1087 M)
Saintis Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Beliau telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha.

Jabir Ibn Aflah (1145 M)
Sejatinya Jabir Ibn Aflah atau Geber adalah seorang ahli matematik Islam berbangsa Spanyol. Namun, Jabir pun ikut memberi warna da kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Salah satu karyanya yang populer adalah Kitab al-Hay’ah.

Advertisements

One thought on “Happy Ied 1429 H

  1. Dulur,

    Sepurane sing akeh yo…

    Ini kali pertama ke blog sampeyan. Senang liat bisa nemu tulisan sampeyan lagi. Sejak dulu bagus dan penuh makna.

    Semoga aku bisa ngikuti sampeyan dalam hal nulis. Sekarang ini kegiatanku suruh liat-liat tulisan orang. Katanya biar ilmiah tapi sebenarnya seperti tukang contek saja. hehehhe

    Sukses selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s