“Simplicity is the ultimate sophistication.” — Leonardo da Vinci (1452–1519)
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdikusi lewat email, bahwa sudah menjadi insting dan basic need setiap manusia kalau mereka tend to choose simplicity, atau secara implisit avoiding complex thing, terutama para pengguna akhir(end user) sebuah layanan atau goods. Simplicity dalam hal fullfilment(pemesanan, pengadaan), assurance (penggunaaan) dan billing (pembayaran).
Jika ada 2 layanan yang sama, dengan kualitas yang serupa, dan harga yang sama sama kompetitif dan affordable, orang pasti akan memilih layanan/product yang lebih simple. Itulah kenapa Albert Einstein pernah mengatakan bahwa “Things should be made as simple as possible, but not simpler.” . Segala sesuatu harus dibuat dengan semudah mungkin tapi tentu saja bukan sesuatu yang asal asalan.
People tend to choose simplicity on top of flexibility, on top of rich fitur, on top of maximum benefit and minimum means. Bayangkanlah betapa sulitnya jika tidak ada ATM, susahnya kalau kita harus hilir mudik mengganti channel di televisi jika tidak ada remote, atau harus bersusah payah minum butiran butiran obat jika tidak dibungkus kapsul.
Simplicity harus menjadi “kata kata sakti” untuk para marketer, seller, product developer, programmer, engineer atau siapapun yang akan menjual pekerjaan/jasanya. Salah satu cara untuk acquire dan retain customer adalah dengan offering simplicity on top of flexibility, rich fitur and maximum benefit with minimum means. Dengan tanpa mengenyampingkan faktor lain semisal harga, kualitas dan pelayanan.
T-cash, Flash Tsel, Flash BCA, Blackberry, jasa pesan antar (delivery) Pizza Hut, McDonalds, Esia 91001234 dsb semuanya offering simplicity dan menjadi magnet tersendiri .
Tapi ? kenapa saya repot repot mencamtumkan kata kata Leonardo Da Vinci — “Simplicity is the ultimate sophistication” — di awal posting ini ? , bukankah terkesan ada ambiguitas ? sebenarnya tidak. Dunia ini selalu terdiri dari dua hal yang berlawanan dan seolah olah saling menegasikan, hitam putih, atas bawah, kanan kiri, tengah tepi dans ebagainya. Segala sesuatu yang terlihat sangat mudah dipermukaan (interface, outlook, body) biasanya akan sangat kompleks dan sophisticated dibagian bawahnya atau di bagian dalamnya.
Mari kita lihat simplifikasi yang paling sempurna
Wajah manusia yang cantik, tampan, manis, cute, babyface atau apapun, sebenarnya adalah bungkus/chasing yang menutupi tengkorak, dan didalam tengkorak ada otak, ada syaraf, otot dan sebagainya yang bekerja terus menerus dan sangat sangat kompleks !!, kompleksitas ini menawarkan hasil yang sempurna dipermukaan, manusia bisa dengan sangat mudah melakukan apapun, berekspresi, kita dengan mudah melihat senyum seseorang, kerlingan mata, gerakan mulit tanpa harus melihat kompleksitas bagaimana semua elemen itu bekerja dan saling bereaksi !!
Simplicity yang benar adalah simplicity yang enscapsulating complexity. Kemudahan harus menjadi interface yang menyembukan kompleksitas. Kemudahan harus menjadi bungkus dari sebuah kerumitan. Kita tidak pernah pusing memikirkan apa yang terjadi ketika kita menginjak gas, menyalakan lampu mobil, menekan tombol remote, mengirim sms, menelpon, mengirim email, apakah kita memikirkan kerumitannya ? jarang atau bahkan tidak pernah !!, yang kita peduli bagaimana kita bisa menggunakan dan mendapatkan manfaat sesuai yang kita inginkan. Semudah mungkin, sedikit saja merepotkan , orang akan dengan mudah mengatakan — cape deeehhhh —
Ya, untuk konsumen, kemudahan adalah kebutuhan yang sangat mendasar, dan untuk mereka yang menjadi provider, penyedia jasa dan konsumer good, tentu harus bersusah payah, membuat sesuatu yang rumit untuk menghasilkan kemudahan. Kuncinya sederhana, jika anda membuat sesuatu dengan sangat mudah, biasanya yang menggunakan hasil apa yang kita buat akan mengalami kesulitan, tapi jika membuat segala sesuatunya dengan sangat sulit, kompleks, fleksibel, maka hampir bisa dipastikan, pengguna akan mendapatkan kemudahan.
Facebook !!, Blog !!, contoh lain dari Simplicity on top of Complexcity. Facebook sangat mudah digunakan, sangat ramah pada para pemasang iklan, tapi dalam kacamata developer, Facebook adalah seni bagaimana membuat dan membangun sebuah applikasi. Sangat kompleks
Demikian juga blogging, orang tidak perlu lagi repot repot seperti dulu belajar html, java script, css, konsep hosting, setting domain secara mendalam hanya untuk menulis di web. Dengan kompleksitas web 2.0 yang menawarkan kemudahan, orang tinggal berselancar internet, membuat account, dan mulai menulis !!! nothing else. Very simple !! Dan tentu saja, snow ball effect dari kemudahan ini , orang yang menggunakannya menjadi lebih efektif dan produktif
Jadi ? kalau banyak orang yang suka dengan rumah minimalis, ada orang yang menganut konsep simply living, ya mari kita juga sama sama menganut konsep memberikan kemudahan pada pengguna jasa kita, pada pelanggan kita, dan memberikan appresiasi kepada siapapun, produk apapun yang telah dengan sangat baik menawarkan simplicity.
Remember this word : KISS
Keep it Simple, Stupid
Keep it Simple & Stupid
Keep it Small & Simple
Keep it Sweet & Simple
Keep it Simple & Straightforward
Keep it Short & Simple
Keep it Simple & Smart
Keep it Strictly Simple
Keep it Speckless & Sane
Keep It Super-Simple
Keep it Sober & Significant
Keep It simple& Smile
“Simplicity is the ultimate sophistication.” — Leonardo da Vinci
Filed under: Bakrie Telecom, Inspiration | Tagged: complex, simple, simplicity























simplicity gak seharusnya mudah..
Sore, Mas Hilal. Belajar banyak hari ini setelah baca tulisan mas. Terima kasih.
yang simple2 aja bukannya asyik
tetapi memang terkadang gak mudah…
sense and simplicity
*iklane philips*
simplicity tentu saja mempunyai dua sudut pandang dilihat dari subyek nya
ya sesuatu diciptakan selalu memiliki kesulitan dan perbaikan sana sini karena berharap di akhir akan memberikan kemudahan buat yang make
saya seneng-nya yg simple-simple aja …
artikel yang menarik, ulasan yang apik
tambah ilmu lagi hari ini
simple saat org/konsumen menggunakannya, namun dalam proses pengerjaannya justru jauh dari simple ya, mas?
anak2 dah pulang dari liburan? ;D
wouww massss
ini postingan yang serius tapi santay,
berbobot tapi di bawakan dengan ringan..
enak bacanya..
makasih ya mas
Sesuatu yang kompleks/ canggih tetapi penggunaannya sederhana/simpel/ mudah, ini yang diburu konsumen…ambil contoh Tuas persneling pada Jaguar XF digantikan dengan tombol putar (Jaguar Drive Selector). sehingga lebih gampang, tinggal mutar tombol putar yang terdapat di console box. Iya sebaiknya concern utama para Produsen selain kompelksitas/ canggih, yang gak kalah penrting adalah kesederhanaan pemanfaatan produknya. sederhana petunjuk dan pemakaiannya … sehingga gampang dimengerti yang pada akhirnya user Friendly bg siapa saja…
Simplicity..??
Ini merupakan konsep baku atau hasil pemikiran Anda sendiri Pak..???
Bagus sekali isinya..
memang menjadi simple itu enak kok mas, ga perlu ribet, ga perlu pusing-pusing.. dan dengan simple kita bisa menjadi bahagia..
Sebenarnya agak sulit menemukan pemaknaan yang pas untuk mengIndonesiakan simple ataupun simplicity..
Ada kecenderungan falasia bahasa punya kebiasaan mereduksi makna terhadap kata-kata translasi.
“tend to choose simplicity = avoiding complex thing”, pada konteks ini simplicity berarti kemudahan. Kalau kemudahan adalah yang dimaksud maka simplicity bukanlah kata yang tepat.
“ease” adalah kata yang tepat untuk kemudahan, dan “easy” untuk kata mudah. Memang ini bukan sekedar persoalan semantik dan gramatikal semata. Namun lebih pada persoalan filosofis.
Masalahnya kita terlalu banyak mendapat kemudahan tanpa memahami filosofi dari kemudahan yang didapat. Walhasil, rendahnya apresiasi terhadap kemudahan itupun cenderung akhirnya membuat masyarakat kita menjadi masyarakat yang ingin serba instan atas nama simplicity tanpa menghargai proses, yang penting hasil.
“Simple-simple aja dech yang penting hasilnya…”, prakteknya yang terjadi sabet kiri, sabet kanan, sogok kiri, sogok kanan, kalau perlu SPANYOL -SPAruh NYOLong-.
Itu sebabnya ada kalimat yang mengatakan…, “Easy come.., easy go…” Mau yang mudah?, atau yang sederhana?
Hayooo…., yang mana hayoooo….
ya, hari gini konsep simplicity memang yg paling pas untuk diterapkan
user tinggal memaksimalkannya untuk kemudahan penggunaan sesuai dg keperluan..
nice post!
simple is the best
Intinya kesederhanaan. Penyederhanaan dari yang tidak sederhana menjadi lebih sederhana. Dan simplicity ini ternyata makin berkembang karena proses perubahan jaman itu sendiri. Makin maju…makin simple.
Contoh yang saya punya lampu Philips Tornado Hemat 80% lebih terang, awet 3 tahun….sampai saya bikin philips sence N simplycity hunting program. Alhamdulillah sudah rampung programnya.
quote dari KISS memang maknyoss.
tapi kadang-kadang kita secara tidak langsung telah dididik untuk berumit-rumit sewaktu disekolah mulai dari TK hingga ke universitas. seperti halnya harus menjabarkan berlembar-lembar dari satu buah paragraph teori saja.
akhirnya hal yg seharusnya sederhana, jadi dibuat susah. contohnya birokrasi di negeri ini. hehehe ..
btw. aku punya PR buat sampeyan cak di sini : http://yudhiapr.blogdetik.com/2009/01/08/jawablah-dengan-gambar/
wangsulono ingkang patiti, ngga boleh nyontek kanan ato kiri yah ..
bagus tuh quote KISS nya,hehhee.
oce deh.., tambah ilmu ni
kadang kemudahan terlalu memanjakan kita…sehingga otak kita malah tak terlatih atau terbiasa sudah diatur dengan mudah dan simpel tanpa mesti memikirkan hal yang seharusnya.
yang jelas ada sisi baik dan juga sisi buruk bagi pemakainya!
Saya suka yang gak ribet, ya simpel-simpel aja. Postingan menarik, dibawakan dengan bahasa yang mudah dicerna bagi yang mengerti. Mohon ijin blog mas saya link.
keep smile
Nenggok mas, Hilal. Maklum tadi pagi laptopku error. Sekarang absen, tandatangan (biar dianggap hadir, jadi dapat uang makan dan transport) terus kabur lagi… wuuuuusshh.
iya, simplicity. tapi dibalik penyederhanaan itu terdapat kompleksitas yang wow….
maksud saya, untuk menyederhanakan ’sesuatu’, diperlukan kerja keras dan prosedur yang luar biasa. ya, seperti fungsi2 yang njenengan jadikan contoh itu. makanya, harga simplicity adalah bukan se-simple simplicitynya.
begitu ta, mas ?
semarang hujan. menyenangkan.
tapi baju baju merk simplicity mahal2
Otaknya siapa tuh difoto?:lol:
salam kenal ya?
Wahhhhh.. bener buanget Oom… simplicity is the ultimate sophistication. Saya juga ngerasain itu pas jadi programmer… user mintanya macem-macem, “Hmm… kok gini ya, kalo drag ‘n drop aja bisa gak”. padahal untuk bikin yang seperti itu aja udah muter otak 7 hari 7 malem… he he he…
Seperti feature drag ‘n drop outlook. kalo mau attach file, tinggal drag ‘n drop. Padahal, proses dibelakang itu… hmmm… checking… error trapping… checking lagi…
Nice post…
Mmmm yang simple itu justru kadang sulit dannnn penuh kerja keras.
Jadi inget ma acara nikahku,maunya aku n suami bikin acara yang simple aja tapiiii mempersiapkan itu semua butuh 1 th.. dannn malah sekarang konsep acara nikahku yg ga neko2 itu jadi contoh
Koq ada photo saya dipasang disitu mas?
Seperti hukum kekekalan energi, “Energi tidak dapat diciptakan, tapi dapat berubah bentuk.”
Jadi untuk mendapatkan kemudahan dari hasil pikiran orang lain, kita harus menebusnya dengan kerumitan yang kita lakukan (kerja).
Salam kenal mas hilal,
Wah, nggak bisa coment lebih jauh mas…
maklumin ya…. wong ndeso, masuk kota.
postingannya ok banget, jadi tambah wawasan!
simple is the best.
saya juga lebih suka baju model yang simple dan classic tuh pak hehhehe.
kadang diistilahkan bahwa simple itu kembali ke basic, padahal belum tentu begitu kan maksudnya?
EM
nice! i’m gonna make my own journal